
Dia bersama rekannya langsung membuat sekat bakar. Dia diminta memilih menangani salah satu lokasi kebakaran di sisi sebelah mana, hingga akhirnya dia sendiri membuat sekat bakar dengan lebar 3 meter dan panjang kurang-lebih 2 kilometer.
“Saya hanya buat sekat, tidak berani memadamkan dengan ranting pohon, karena apinya besar. Kalau kena angin, tingginya bisa melebihi saya. Bahkan sisa kebakaran sempat saya injak-injak pakai sepatu juga susah sekali padamnya,” jelasnya.
“Setelah sampai, baru membayangkan gimana pulangnya harus melewati tiga punggungan,” tuturnya.
Hingga akhirnya, setelah bekerja seharian, tim berikutnya tiba, dan dirinya bisa kembali turun.
“Hari itu saya kerja cuma makan sekali, saya kan bawa dua bungkus nasi, satu dimakan saat perjalanan malam hari, satunya dimakan paginya. Habis itu cuma minum saja sampai pulang,” tuturnya.
Dikutip dari Detik.com, salah seorang anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita Desa Ketenger, Rasim, menambahkan warga setempat masih sangat menjaga kelestarian Gunung Slamet.
“Warga sini sudah biasa naik-turun gunung. Kalau ada kebakaran, orang Perhutani pasti minta bantuan ke sini, warga sini semangatnya luar biasa untuk melestarikan alam di sekitar gunung,” ucapnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Tim 8 di lembah Singadimeja pada Selasa (24/9) malam, sudah ada empat titik api yang bisa dilokalisir. Sedangkan satu titik api sudah bisa dipadamkan dengan cakupan luas yang terbakar sekitar 20-30 hektare. (Net)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















