
“Dalam rentang waktu yang sangat singkat, dia (si polisi) mengambil sebuah keputusan dan menembak penyerang,” sebut Lo dalam keterangannya pada Selasa (1/10) malam waktu setempat.
“Si penyerang yang memutuskan untuk mendekat. Dia (si polisi) tidak punya pilihan, dia hanya bisa menggunakan senjata yang tersedia,” imbuh Lo.
Lo menegaskan tidak ada perintah resmi bagi polisi untuk melepas tembakan jika merasa terancam, namun polisi bisa menggunakan kekuatan yang pantas. Lo menyebut demonstran sebagai ‘perusuh’ dan menyebut mereka telah melakukan tindak kriminal secara luas, seperti menyerang polisi, merusak
properti umum dan melakukan vandalisme di toko-toko dan bank terkait China. Dilaporkan 25 polisi mengalami luka-luka akibat serangan demonstran anarkis.
Dikutip dari Detik.com, sementara itu, pembelaan yang disampaikan Lo itu menuai kecaman dari aktivis setempat. “HK (Hong Kong) telah jatuh menjadi negara polisi secara de facto. Kekuatan keamanan paramiliter telah sepenuhnya mengambil alih kota ini,” sebut aktivis Hong Kong terkemuka, Joshua Wong, via Twitter.
Anggota parlemen prodemokrasi, Claudia Mo, menyatakan polisi seharusnya bisa menggunakan senjata yang tidak mematikan. “Respons polisi yang masuk akal seharusnya menggunakan tongkat polisi atau semprotan merica, dan sebagainya, untuk melawan balik. Itu bukanlah situasi yang ekstrem dan penggunaan peluru sungguhan, jelas tidak bisa dibenarkan,” tegasnya. (Carfine/net)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















