Otoritas kesehatan di Filipina telah melaporkan 2.311 kasus COVID-19 dengan 96 orang di antaranya telah meninggal. Sejauh ini sudah 50 pasien berhasil disembuhkan.

Jocy Lopez, 47, yang memimpin demo warga mengatakan, mereka dipaksa untuk menggelar protes karena mereka tidak memiliki makanan akibat lockdown.

“Kami di sini untuk meminta bantuan karena kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan. Kepada siapa kami berpaling,” katanya sebelum ditangkap polisi.

BACA JUGA :  Perkuat Sinergi Pj. Bupati Bogor Terima Kunjungan Audiensi dari KPK RI

Kelompok-kelompok aktivis mengecam penangkapan itu dan mendesak pemerintah untuk mempercepat penyaluran bantuan uang tunai yang dijanjikan di bawah program perlindungan sosial senilai 200 miliar peso (USD4 miliar) untuk membantu keluarga miskin dan mereka yang kehilangan pekerjaan akibat lockdown.

“Menggunakan kekuatan berlebihan dan penahanan tidak akan memadamkan perut kosong orang Filipina yang sampai hari ini tetap belum merima bantuan uang tunai,” kata kelompok pembela hak-hak perempuan, Gabriela.

BACA JUGA :  Pj. Bupati Bogor : Penataan Kawasan Puncak Harus Dilakukan Secara Komprehensif

Kelompok warga lain mengadakan pertemuan umum untuk menuntut pembebasan mereka yang ditahan. Massa memegang poster yang bertuliskan “tes massal, bukan penangkapan massal”.

Wilayah utama Filipina utara, Luzon, adalah rumah bagi lebih dari 50 juta orang dan di-lockdown selama sebulan. (net)

Halaman:
« 1 2 » Semua
======================================
======================================
======================================