DUA UJIAN BESAR DAN KEMULIAAN MANUSIA

Dan pada akhirnya dua ujian yang Allah berikan yaitu ujian menghadapi wabah Codi-19 dan Puasa dibulan Ramadhan, semua tertuju pada bagaimana gugur atau hilangnya dosa yang ada dalam setiap diri seorang muslim, sebagaimana riwayat hadist yang berbunyi, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan bagi, muslim yang bersabar kemudian tetap istiqomah berpuasa Allah jamin dengan penghapusan dosa sebagaimana hadist : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Ingin Memuliakan Kembali Manusia Mengenai hikmah dari apa yang terjadi saat ini, penulis hanya ingin menutup dengan sebuah pemaknaan bahwa tentang bagaimana relasi jiwa dan jasad yang Allah berikan dalam mempergunakannya saat ini?. Manusia terdiri dari jasad dan ruh, dan sebaik-baik penciptaan Allaha dalah manusia. Namun kenyataan-nya manusia lebih memperhatikan kebutuhan jasad-nya daripada kebutuhan ruh-nya. Misal seseorang sakit gigi, maka diperiksakan-nyalah giginya ke dokter. Sedang lapar, maka bergegas segera makan. Begitu cepatnya kebutuhan jasad-itu ditunaikan, namun jika kebutuhan ruhiyah-nya banyak orang yang lamban, belum kegiatan negative lainnya yang dilakukan berbagai manusia. Ditengah kondisi saat ini penulis tetiba teringat rangkaian surat Al Fajr dalam Al Quran. Yaitu “Demi Fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu, Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?, Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?, (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka, sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi, Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”, Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”, Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan, Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu, Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”, Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya., Wahai jiwa yang tenang!, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya., Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Dari surat Al Fajr diatas, penulis hanya ingin menggaris bawahi ayat “Wahai jiwa yang tenang!, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya., Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Potongan 4 ayat terakhir dalam surat Al Fajr ini merupakan tanda bahwa Allah sangat sayang terhadap hambanya terutama kepada seorang muslim, untuk kembali menjadi manusia yang utuh baik jiwa maupun raga, maka dengan kondisi saat ini dimana ada pandemic covid-19 berbagai unsur ibadah yang saat ini umat islam jalankan agar dilakukan dirumah saja dan mengikuti berbagai imbauan pemerintah dan para ulama dalam menangani Covid-19 patut kita jaga dan bantu bersama. Bagi penulis, memang berat ditengah sedang berpuasa dan sebagai seorang muslim untuk tetap beribadah dirumah, padahal ketika suasana ramadhan ini justru aktivitas biasanya banyak dilakukan diluar rumah. Namun untuk mengurangi penularan Covid-19 yang lebih besar, beribadah dari rumah sesungguhnya memiliki makna sangat besar, sebagaimana Allah ingin kembali memuliakan manusia dengan hati yang ridha dan diridhai-NYA, apalagi memasuki ramadhan ini menajdi momentum untuk bermuhasabah dan berkontemplasi jauh lebih banyak bersama orang-orang yang dicintai dirumah mulai dari shalat berjamaah, tadarus dan melakukan berbagai amalan baik bersama keluarga, mungkin dengan cara itulah Allah mengembalikan kemulian manusia, karena ajaran islam berkembang dan kuat tentu dimulai dari keluarga. (*)
Halaman:
« 1 2 » Semua
BACA JUGA :  Argentina di Piala Dunia 2026: Kandidat Kuat Pertahankan Gelar Juara

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================