Imbas Covid-19, Pengusaha Dekorasi di Bogor Mati Suri

CIBUNGBULANG TODAY – Sejak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor membuat keputusan melarang resepsi pernikahan untuk menekan sebaran virus corona di wilayahnya membuat para pengusaha jasa dekorasi pelaminan turut merasakan imbasnya. Di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, misalnya. Sebut saja Ranky Safitri dan Panji Gustiadi. Pasangan suami istri , warga Kampung Jakimun, Desa Sukamaju, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, harus memutar otak agar bisnis dekorasi yang mereka tekuni sejak 2016 tidak gulung tikar. Yakni membuat peti jenazah untuk korban Covid-19. Ide itu, dikatakan Ranky berawal dari keprihatinannya melihat banyak korban meninggal dunia akibat Covid-19 ditelantarkan di luar negeri, munculah ide untuk mencoba membuat sesuatu baru, yakni peti jenazah. “Awalnya saya melihat postingan-postingan Ekuador kalau tidak salah, banyak mayat-mayat yang dimakamkan kurang layak sampai pakai trashbag,” kata Ranky, Minggu (10/5/2020). Setelah mendapat referensi dari internet, Ranky bersama karyawannya mencoba membuat peti jenazah untuk korban Covid-19. Dengan berbekal bahan yang ada, ditambah plastik khusus dan kain, jadilah satu buah peti untuk dijadikan sampel sebelum memproduksi dengan jumlah banyak. Dari mulut ke mulut, akhirnya Ranky mendapat orderan peti jenazah untuk pertama kalinya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor. Kemudian, peti jenazah buatannya itu kembali dipasarkan melalui e-commerce. “Kita panggil tuh instansinya datang, speknya masuk apa engga. Kan kita bikinnya dari kayu multiplek, kita ngobrol dan ternyata memang sesuai dengan spesifikasinya ya Alhamdulillah tuh ada pesanan,” tuturnya. Sedikitnya, Ranky mempekerjakan kurang dari 10 karyawan yang membantu dirinya membuat peti mati di lokasi tersebut. Mereka rupanya merupakan karyawan sebuah usaha dekorasi pernikahan. Kemudian, dari situ pesanan akan peti jenazah terus mengalir yang didominasi beberapa rumah sakit di Bogor, Jakarta, Sukabumi, hingga Cirebon. Untuk harga, satu peti jenazah khusus Covid-19 ini dibanderol mulai dari Rp 1 jutaan dengan waktu pengerjaan sekitar satu hari. “Harga kita tidak kasih mahal, karena udah pasti yang pesan peti jenazah itu sangat membutuhkan, biasanya dari rumah sakit. Kita sendiri ingin ada sisi donasinya jadi tidak mahal. Peti kita ada dua tipe, untuk umum bukaan dari atas dan untuk muslim dari samping, tapi mayoritas umum,” bebernya. Meski saat ini bisnis barunya terus dibanjiri orderan, namun Ranky mengaku akan kembali ke usahanya di bidang dekorasi pernikahan setelah pandemi Covid-19 berakhir. Ia berharap, kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini bisa kembali normal. Sehingga tidak ada korban-korban berikutnya yang berjatuhan. “Kita hanya dasarnya membantu, tapi mau gimana kalau kita tidak usaha kita juga tidak makan. Kalau diterusin atau enggak, mudah-mudahan enggak. Kita ingin kembali ke dekorasi pernikanan aja,” tutupnya. Sementara, Edwin salah seorang pekerja dilokasi mengatakan bahwa sebelumnya dia tidak memiliki keterampilan sama sekali untuk membuat peti. Meski begitu, Edwin mengaku tidak begitu menemui banyak kesulitan saat membuat peti tersebut. Untuk membuat 10 peti mati, kata Edwin, ia mampu menyelesaikan dalam waktu tiga hari dengan melibatkan karyawan yang ada. (Bambang Supriyadi). Bagi Halaman
BACA JUGA :  4 Bulan Kelahiran yang Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul, Apakah Kamu Salah Satunya?

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================