“Kalau dimungkinkan seperti apa, mungkin belajarnya dibagi tiga kali pertemuan per minggu. Sementara ada guru yang harus di gaji, ada listrik, air yg harus dibayar. Tapi kegiatan itu belum diputuskan,” terang Ade Yasin.
Tim gugus, dikatakan Ade, harus juga mempersiapkan sekolah mana yang siap nantinya tim monitoring turun ke lapangan agar dapat dilaksanakan kegiatan belajar meski hanya secara bergantian.
“Kan presentasenya sudah dibahas mungkin 30 persen dari jumlah murid, yang penting bergiliran. Kan banyak yang terkendala sinyal. Kalau guru satu-satu ke rumah gak cukup waktu karena jarak,” tegasnya.
Pihaknya pun mengaku ada beberapa sekolah swasta yang siap untuk menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Namun Ade bakal mengajukan konsep belajar yang diiringi dengan monitoring protokol kesehatan.
“Rekomendasinya per sekolah kan tidak sama. maka dari itu, nanti baru rekomendasi dari kita, seperti wisata aja,” tukas Ade.
(Bambang Supriyadi).
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
======================================
====================================