BOGOR TODAY – Berbahagialah masyarakat Bumi Tegar Beriman, karena Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang tengah melakukan pembangunan gedung rawat inap 4 lantai, dengan tujuan agar mampu mengcover pasien dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat wabilkhusus warga yang tinggal di barat Kabupaten Bogor. Tentunya, tujuan mulia itu perlu dukungan dan doa semua pihak agar cita – cita yang baik itu terwujud. “Gedung ruang rawat inap yang sedang dibangun ini memiliki kapasitas 140 tempat tidur dengan rincian, kelas 2 ada 80 tempat tidur, kelas 1 ada 40 tempat tidur, kamar utama 10 tempat tidur dan VIP ada 10 tempat tidur,” tutur Direktur RSUD Leuwiliang, Drg. Hesti Iswandari. Progres pembangunan gedung di minggu ke 12 itu sudah mencapai 25 persen, namun pembangunan yang diharapkan berjalan sukses tanpa ekses itu tengah menjadi sorotan sebagian kalangan, musababnya adanya perubahan kontruksi pondasi dari sarang laba-laba (KSLL) berganti menjadi tiang pancang.  
Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Leuwiliang Sudah Mencapai 25 Persen
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang, Slamet Asruhi, memberikan penjelasan sekaligus menginformasikan mengapa harus dilakukan perubahan dari KSLL menjadi tiang pancang. “Perubahan itu dilakukan berdasarkan kajian dari tim ahli geologi dan konsultan kontruksi yakni, Prof. Paulus P Rahardjo,” tutur Slamet – sapaan akrabnya. Perubahan pun telah disepakati bersama oleh semua pihak terkait seperti, kontraktor pelaksana, konsultan manajemen konstruksi (MK), konsultan perencana awal, tim teknis, tim peneliti kontrak, PPTK, PPK, KPA, dan direksi RSUD Leuwiliang. “Berdasarkan hasil kajian, ada lima pertimbangan yang merubah perencanaan awal penggunan KSLL ke tiang pancang. Pertama, perubahan dilakukan mengacu pada aturan peta gempa 2012 dan 2013. Kedua, adanya aturan peta gempa 2017 sebagai pelengkap,” kata dia. Ketiga, lanjut Slamet, hasil streping lokasi kerja menunjukan tanah berlumpur dan berair. Keempat, berdasarkan hasil uji tanah didapati hasil bahwa tanah di area pekerjaan berjenis lumpur sangat lunak yang bercampur organik dengan kadar air tinggi. “Faktor kelima sondir dan boring merekomendasikan kedalaman pondasi dalam sedalam kurang lebih 24 M6,” paparnya.
Sejumlah Pekerja Tengah Melakukan Pekerjaan di Gedung Ruang Inap RSUD Leuwiliang
Tak hanya itu, dari hasil kajian geoteknik juga mengungkapkan bahwa kondisi tanah didapati adanya lapisan tanah lunak setebal dua meter, diikuti dengan lapisan lensa pasir kelanauan dengan densitas lepas sampai dengan kedalaman empat meter.
Baca Juga :  Resep Membuat Nasi Bakar Jamur