
Atas saran gurunya itu, yaitu Anis Djatisunda, mulai tahun 2005, Ki Wahyu memberi harga atau mahar terhadap kujang-kujang yang ia hasilkan. Nilainya ditentukan berdasar jenis kujang dan jumlah “mata†yang ada pada kujang. Terutama pada kujang ciung. Lebih banyak “matanya†semakin tinggi harganya.
Abah Wahyu membuat berbagai macam kujang. Mulai dari kujang berukuran Gede (31-32 cm), Duatilu (25-27 cm), Paro (23-24 cm), dan Leutik (10-11 cm). Termasuk kujang berukuran besar mulai dari 1 sampai 2 m. Untuk kujang pusaka, Abah Wahyu perlu persiapan khusus saat membuatnya.
Dalam menentukan harga, ia pun tak asal mematok harga. Seperti Kujang mata 9 dipatok seharga Rp 990 ribu, kujang mata 5 dihargai Rp 550 ribu dan kujang mata 6 ialah Rp 660 ribu.
“Yang berbeda itu jumlah bornya saja. Untuk ukuran, bentuk dan kesulitannya juga sama. Namun yang lebih membedakan adalah sejarahnya, dulu sejarahnya yang memegang kujang ciung mata 9 adalah raja, yang memeÂgang ciung mata 5 adalah adipati,†terangnya.
Di tahun 2005, Ki Wahyu mendapat julukan Guru Teupa dari Anis Djatisunda. Guru dalam Bahasa Sunda Buhun artinya tukang atau ahli. Sedangkan teupa artinya nempa. Jadi, Guru Teupa memiliki arti Tukang atau Ahli menempa kujang.
Sebagai Guru Teupa, Abah Wahyu telah membuat 672 kujang pusaka. Sejak tahun 2001 sampai 2009, ia telah menciptakan sembilan pamor. Yaitu, pamor Tapak Nanggala, Caringin Kurung, Mega Sirna, Tirta Sadana, Sekar Kadaton, Pakujajar, Waruga Sungsang, Naga Bandang, dan Hanjuang.
Menurut Abah Wahyu, kujang-kujang buatan tempo dulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis dan bintik-bintik yang tidak beraturan. Biasa disebut dengan Sulangkar dan Tutul.
Di Pantun Bogor, menurut Abah Wahyu, disebutkan ada enam jenis kujang. Yaitu, Kujang Ciung, Kuntul, Jago, Naga, Bangkong, dan Badak. Sementara dari sumber lain, disebutkan kalau ada jenis satu lagi, yaitu Kujang Wayang. Kujang Wayang ini diperkirakan dibuat oleh Guru Teupa dari wilayah Cirebon.
Sekarang ini Abah Wahyu membuat kujang, khususnya yang dipakai sebagai ageman, dengan mata kujang ditutup kuningan, perak, atau emas. Landean atau gagang berbentuk ceker kidang dan terbuat dari kayu Sonokeling. Sarangka atau warangka juga dari kayu Sonokeling.
(B. Supriyadi)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
======================================
====================================