BOGOR TODAY- Satu tahun sudah pandemi COVID-19 terjadi di Kota Bogor. Berbagai sektor dan lini menjadi imbas dampak merebaknya virus corona, tidak terkecuali fasilitas umum seperti rumah ibadah. Masjid menjadi salah satu tempat yang terdampak, pada masa awal lockdown, masjid-masjid ditutup guna menghindari penularan.

Namun ketika PSBB ditetapkan, masjid-masjid diperbolehkan melakukan aktifitas seperti shalat jumat, tetapi dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) yang sangat ketat. Penerapan Prokes itupun membuat para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Kota Bogor mengeluarkan anggaran yang besar, mulai dari menyediakan bilik disinfektan, hand sanitizer, masker, alat thermogun dan lainnya.

BACA JUGA :  Kebiasaan Begadang Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Sedangkan, perhatian pemerintah untuk menutupi kebutuhan prokes sangat kurang dan minim. Disisi lain, pemasukan infak sodaqoh masjid berkurang tetapi pengeluaran sangat besar. Seperti yang diungkapkan Ketua DKM Masjid Baitur Ridwan, Jalan KH Abdullah Bin Nuh, H. Firman Sidik Halim.

Ia nengatakan, sejak awal ditutupnya masjid karena pandemi COVID-19 satu tahun lalu, masjid ditutup selama beberapa bulan, dan ketika diperbolehkan dibuka, masjid langsung dibuka dengan menerapkan prokes ketat serta pembatasan jamaah. Selama satu tahun, pengeluaran biaya masjid sangat besar karena digunakan sebagai penunjang alat-alat Prokes.

BACA JUGA :  Gugatan Nikita Mirzani Ditolak, Kuasa Hukum Reza Gladys Sebut Putusan Perkuat Argumentasi Mereka

“Selama pandemi covid-19 ini, biaya pengeluaran masjid besar, dari mulai alat-alat Prokes maupun pembayaran air PDAM dan Listrik. Sedangkan pemasukan dari infaq sodaqoh turun drastis karena masjid sempat ditutup dan dikurangi jemaahnya ketika dibuka,” ungkap Firman, Rabu (17/3/2021).

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================