
Pembicara ketiga yang juga adalah Konsultan Pertanahan Sumba Barat, Meriana Ina Kii,S.Pd., M.SI mengatakan bahwa penyebab rendahnya literasi di Sumba disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
“Faktor internal yaitu motivasi dan kesabaran dari individu tersebut, sementara faktor eksternal berkaitan dengan akses buku, pemanfaatan dan faktor budaya yang dibangun dari dini (budaya membaca dari kecil belum ada), pada hal buku dan membaca adalah kuncinya. Karena budaya literasi berperan penting dalam menciptakan bangsa atau manusia yang berkualitas,” kata Meriana.
Sementara permasalahan yang paling mendasar literasi di Sumba tidak berkembang, kata Meriana, karena aspek sosial cultural yang sangat kuat, dimana secara budaya masyarakat Sumba pada umumnya masih sangat kental dengan ritual-ritual tertentu yang dalam pelaksanaannya.
“Saya melihat betul banyak warga sekolah yang terlibat di waktu ritual adat sehingga kadang anak-anak mereka tidak ke sekolah selama proses adat ini berlangsung. Juga, budaya tutur yang sangat dominan dibandingkan dengan budaya literasi di sekolah,” katanya lagi.
Sedangkan, Yanto Pekabanda menjelaskan bahwasannya kemampuan guru dalam literasi masih kurang, jika di lihat kemampuan membaca seorang siswa yang minim.
“Kemungkinan besar kaitannya dari guru yang masih kurang kemampuannya dalam hal berliterasi untuk itu bukan hanya sarana dan prasarananya tetapi juga sumber daya manusianya dalam hal ini yang dimaksudkan adalah seorang guru apakah mereka sudah menjalankan tugasnya dengan tanggung jawab penuh atau hanya jadi lambang saja dalam dirinya jadi seorang guru, tetapi tidak ada panggilan dalam diri sendiri untuk membimbing, mendidik, evaluasi siswa terutama siswa kelas awal,” tutur Musisi Voc. Marapu Reggae itu.
Menurutnya, perlu dipahami bahwa kemampuan dalam berliterasi terutama seorang guru yang akan memimpin, mendidik siswanya agar lebih aktif dan lebih mampu lagi agar siswanya bisa mengerti dan bisa mengolah apa yang disampaikan oleh gurunya.
Founder Nusantara Literasi Baca, Ferdinandus W. Ate menyampaikan bahwasannya Kihajar Dewantara pernah mengatakan bahwa semua tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru, serta setiap waktu adalah belajar.
“Terkait dengan terbentuknya Nusantara Literasi Baca, menjadi salah satu bagian kecil untuk memberikan wadah kepada masyarakat agar dapat meningkatnya minat akan membaca, kemudian akan terciptanya masyarakat Indonesia yang cerdas, berintelektual, kreatif, inovatif dan mampu berfikir kritis terlebih khusus di Sumba sendiri,” kata dia.
Ate mengatakan bahwa dengan hal ini Nusantara Literasi Baca akan terus meningkatkan budaya literasi terutama bagi layanan penyedia pendidikan atau sekolah. “Sehingga ruh gerakan Nusantara Literasi Baca bisa terus tumbuh. Salam Literasi,” tandasnya.
Sekedar invormasi, kegiatan ini menghadirkan 4 narasumber seperti, Wilhelmus Yape Kii, M. PHIL., M.A sebagai narasumber pertama, Theresia M. D. Abul, S. Pd sebagai narasumber kedua, Meriana Ina Kii, S. Pd., M. Si sebagai narasumber ketiga, dan Yanto Pekabanda sebagai narasumber keempat serta Opening Speech Oleh Ferdinandus W. Ate Founder Nusantara Literasi Baca dan kegiatan ini dimoderatori oleh Anastasia Natalia Lende yang juga adalah Tim Nusantara Literasi Baca. (*/Heri)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















