“Suatu kali, saya memintanya untuk turun,” kata Aldrin. Dia berkata ‘Diam, aku tidak akan turun. Seseorang akan membunuhku jika aku melakukannya.” Terang Aldrin menirukan kata-kata Gilbert.

Meskipun semua orang di La Paz tahu cerita Gilbert Sanchez, tidak ada yang melakukan apa-apa.

Pada akhirnya, sebuah tim yang terdiri dari 50 orang bersama keluarga Gilbert mencoba membujuknya untuk turun secara sukarela, namun lagi-lagi permintaan warga tak dihiraukan.

BACA JUGA :  Maju Jadi Calon Ketua Kadin Kota Bogor Harus Siapkan Rp350 Juta, Ini Penjelasan Panitia

Dengan terpaksa, tim akhirnya menebang pohon kelapa itu menggunakan gergaji mesin dan Gilbert berhasil dievakuasi dengan selamat meski di beberapa bagian tubuh Gilbert dipenuhi lecet dan gigitan serangga.

Tak hanya itu, Gilbert juga menderita atrofi otot dan tulang punggungnya menjadi cacat setelah sekian lama berjongkok di pohon kelapa. Tapi pikiran pria itu yang paling rusak.

Menurut penilaian awal seorang psikiater, pria berusia 47 tahun itu menunjukkan gejala psikosis, termasuk delusi, halusinasi, dan ketakutan bahwa seseorang mencoba membunuhnya.

BACA JUGA :  Hari Lahir Pancasila, Ketua DPRD Bogor Ajak Warga Jaga Persatuan

Kisah tragis Gilbert membuat dampak yang cukup besar di media sosial Filipina, dengan banyak pengguna bertanya bagaimana mereka dapat membantu dia dan ibunya mengembalikan kehidupan mereka ke jalur semula. Rekening bank atas nama Winifreda Sanchez dibuat agar orang dapat menyumbangkan apa pun yang mereka bisa untuk tujuan mereka.
(Net/B. Supriyadi)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================