BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Kurang lebih dua tahun lamanya pandemi Covid-19 belum juga melandai. Hal itupun menggilas dan menjelma seumpama badai puting beliung yang menghancurkan beberapa sektor ekonomi termasuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Seperti yang menimpa usaha milik pasangan suami istri (pasutri) Asli’inayah (40) dan Budi (42) warga RT01/01Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.

Usaha yang telah dirintis selama dua tahun lalu itu, mengalami penurunan secara drastis hingga hanya menyisakan harapan yang masih diperjuangkan hingga saat ini.

Iin menuturkan sebelum adanya Covid-19 dia mampu memberdayakan delapan orang warga sekitar untuk membantu usahanya. Karena setiap harinya dia harus mengolah terigu sebanyak enam Bal (1 bal 25 kilogram) untuk memproduksi kue pia dan roti gambang, sedang untuk bahan dasar kue keremes dalam seminggu dia harus mengolah ubi sebanyak satu ton lebih.

Baca Juga :  ITB VINUS Sambangi DPRD Sampaikan Pengembangan SDM Berbasis Pendidikan

“Dulu mah sebelum ada Corona Alhamdulillah pisan yang bantu kerja aja ada delapan orang, bisa ambil kredit mobil pick up sama motor buat usaha, buat ngirim-ngirim kue ke warung-warung” tuturnya kepada bogor-today.com, Kamis (2/9/2021)

Namun, sejak adanya pandemi perlahan usahanya merosot, hingga delapan orang yang dipekerjakan itu harus dirumahkan lantaran produksinya menurun. kue yang biasa ia simpan di warung-warung pun sepi pembeli.

Baca Juga :  Seorang Perempuan Tewas Usai Terlindas Dump Truk di Jalan Alternatif Bojong Bogor

Senada dengan itu, Budi suami Iin membenarkan bahwa dulu membuat adonan sampai 150 kilogran terigu bisa habis kuenya, tapi sekarang membuat adonan 20 kilogram saja masih tersisa.

“Iyah kang, dulu mah kita produksi tiap hari dibantu yang kerja, sekarang mah cuma berdua saya sama istri dan itu pun bikin kuenya dua atau 3 hari sekali dan yang titipin di warung-warung saya sendiri,” imbuhnya. (Didin/CR).