“Artinya daerah ini memiliki potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi pergerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali,” kata Kepala PVMBG, Kasbani, dikutip bogor-today.com dari beritasatu.com.

Kasbani memaparkan pergerakan tanah disebabkan karena adanya  interaksi kondisi geologi oleh curah hujan.

Pertama, sambung Kasbani tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air. Longsoran terjadi pada Batuan Gunungapi Endut (Qpv), tuf dan breksi terdiri dari tuf batuapung, breksi tufan, batupasir tuf, lempung tufan dan batupasir berlapis silang(Tmtb), batuan gunungapi yang tak terpisahkan terdiri dari breksi dan aliran lava (Qvu), Tuf batuapung pasiran (Qvst).

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Kenang Jasa Pahlawan dan Anggota Polri Gugur Jelang HUT Bhayangkara

Kedua, bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan batuan yang lebih segar sebagai bidang gelincir. Ketiga, kelerengan yang curam, bahkan beberapa tempat hampir tegak.

Keempat, di beberapa tempat terlihat kontak endapan gunungapi dengan batulempung (formasi Bojongmanik) dengan bidang perlapisan yang searah dengan kemiringan ke arah sungai. Longsor di Harkat Jaya, Sipayung, Jayaraharja, Sukamulih, Pasirmadang masuk ke dalam DAS Sungai Cidurian sehingga dampaknya banjir membawa material longsor dan batu di sepanjang Sungai Cidurian dan melanda pemukiman di kanan kiri Sungai Cidurian dan terakhir, curah hujan 301.6 milimeter dalam satu hari sebagai pemicu. (Didin/CR)
 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================