Di antara anak-anak dalam penelitian ini, 143 atau 6 persen berkembang menjadi Dengue Shock Syndrome. Faktor-faktor risiko muncul pada saat anak-anak mulai masuk rumah sakit.

Hal ini semakin berkembang menjadi Dengue Shock Syndrome  yang ditandai dengan muntah, suhu tubuh lebih tinggi, hati terasa tertusuk, dan jumlah trombosit lebih rendah. Selain itu, jumlah trombosit setiap hari, serta perubahan jumlah trombosit dari waktu ke waktu, membantu membedakan pasien yang terkena DSS. Namun, model yang dibuat berdasarkan hasil ini hanya memiliki nilai prediksi sedang dalam mengidentifikasi semua pasien yang mendapatkan DSS.

BACA JUGA :  Prabowo Ganti Pimpinan Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk Jadi Kepala Baru

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan faktor-faktor lain yang dapat diintegrasikan ke dalam model prediksi sehingga lebih berguna secara klinis.

“Meskipun penelitian ini dilakukan di antara anak-anak yang dirawat di rumah sakit, temuan ini mungkin berlaku untuk populasi anak-anak yang sekarang dikelola sebagai pasien rawat jalan selama fase awal penyakit mereka di banyak kota besar di Asia Tenggara,” kata Lam.

BACA JUGA :  Vertu AlphaFold Resmi Meluncur, Ponsel Lipat Premium dengan AI Asisten Pribadi Seharga Rp 110 Juta

“Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pada fase demam awal, demam berdarah biasanya merupakan penyakit yang tidak spesifik, tetapi juga memberikan dukungan kuat bagi rekomendasi WHO untuk melakukan penghitungan darah lengkap harian untuk memantau jumlah trombosit secara ketat pada pasien ini,” tambah dia. (net)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================