Untuk lomba dan jenisnya, kata Adnan dari mulai tingkat SMP atau MTs hingga SMA atau sederajat. Tingkat SMP ada membaca puisi, mendongeng, membuat poster. Sedangkat tingkat SMA nya ada musikalisasi pusi, monolog, berbalas pantun, kemudian debat serta resensi buku.

La Sastra 5 kali ini, menghadirkan narasumber sekaligus bintang tamu Erisca Febriani (sastrawan) juga ada beberapa juri dari Disdik Kota Bogor, Disbudar Kota Bogor, Kantor Komunikasi dan Informasi Kota Bogor, Fakultas Sastra Unpak Bogor, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor, Jurnalis Kementrian Luar Negeri, Yayasan Hanjuang Kota Bogor dan MGMP Bahasa Indonesia SMP/SMA Kota Bogor,” terang Adnan, kepada bogor-today.com, Sabtu (20/11/2021).

BACA JUGA :  Lari Pagi atau Lari Sore, Mana yang Lebih Baik? Ini Perbedaan Manfaatnya untuk Tubuh

Menurut Adnan, bahasa merupakan alat pemersatu dalam komunikasi bagi manusia yang setiap individu membutuhkan bahasa untuk berinteraksi, menuangkan gagasan, dan pendapat, serta berhubungan sosial lainnya. Keragaman dan keunikan manusia itulah yang menjadi sumber daya bahasa untuk dijadikan landasan bagi bahasa sebagai identitas suatu bangsa.

Dengan demikian, apa yang dirasakannya akhir-akhir ini merupakan sebuah fenomena bernama globalisasi yang berdampak pada perkembangan bahasa yang semakin dinamis. Antara lain perubahan berbahasa yang tentunya mengarah pada kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasanya maupun cara berbahasa yang baik dan benar.

BACA JUGA :  Ilmuwan Ungkap Afrika Berpotensi Terbelah, Retakan Raksasa Bisa Picu Samudra Baru

“Berangkat dari situlah, kegiatan bahasa dan sastra ini dapat direalisasikan dengan menyesuaikan dengan era modern ini. Dengan begitu, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat tumbuh beriringan dengan berjalannya waktu,” katanya.

Namun, jika dibiarkan begitu saja tanpa disaring, tidak mustahil hal ini dapat berdampak buruk pada pelestarian dan pengembangan. Sehingga hal itu dapat mengakibatkan penurunan drastis minat terhadap pengetahuan juga kecintaan bahasa dan sastra Indonesia, serta tercampurnya nilai-nilai nasionalis dengan budaya barat, terlebih dengan adanya kondisi pandemi COVID-19 saat ini. (B. Supriyadi)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================