BOGOR-TODAY.COM – Self healing adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh masing-masing pribadi untuk menyembuhkan luka pascatrauma atau kejadian yang membuat seseorang merasa tertekan atau stres secara mandiri.
Pada sebuah penelitian bahkan telah membuktikan bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan “luka” itu sendiri, dengan presentasi keberhasilan hingga 18-75 persen. Oleh karena itu, self healing diperlukan dan tersedia dalam beragam metode.
Masing-masing orang memiliki cara meluapkan emosi dan memulihkan diri masing-masing. Salah satu cara yang dianggap dapat menjadi bagian self healing adalah menghancurkan barang. Efektifkah menurut psikolog?
Menghancurkan barang, apakah tepat untuk Self Healing?
Melansir verywellmind.com, Jumat (26/11/2021), psikolog klinis Cleveland Clinic, AS, Scott Bea, Psy.D, fasilitas untuk merusak barang (rage room) mungkin berguna bagi beberapa orang agar mendapatkan ketenangan.
Mereka mungkin merasa, emosi yang dipendam selama ini akhirnya bisa tersalurkan dengan menghancurkan barang dalam layanan tersebut. Tak dipungkiri, kegiatan ini memang tidak bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari.
Tetapi, Scott berpendapat, jika Anda berjuang melawan masalah kecemasan serius, melampiaskan emosi dengan merusak barang-barang bukanlah solusi terbaik untuk memulihkan diri.
Sebaiknya, temui terapis untuk membantu mengatasi kecemasan atau stres yang dialami.
Sependapat dengan Scott, Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, mengatakan ruang kemarahan yang ada saat ini tidak bisa disebut media self-healing.
Menurut Gracia, tujuan dari ruang kemarahan adalah sebagai sarana katarsis, yakni media untuk melepaskan amarah atau emosi lain yang mengganggu.
“Bedanya, sekarang ada fasilitas semacam ini yang menyediakan suatu protokol dan memastikan keamanan bagi pelakunya dan dilakukan secara sadar, bukan hanya karena dorongan luapan emosi semata,” ucap Gracia.
Mengingat rage room hanyalah sarana katarsis, fasilitas ini saja tidak cukup untuk self-healing.
Cara self healing dengan menghancurkan barang mungkin dapat membantu mengusir perasaan buruk sementara. Tetapi, cara ini tidak mengatasi penyebab kemarahan yang mendasari.
Self Healing Harus Dilakukan Secara Berkelanjutan
Menurut Psikolog Gracia, meski ruang kemarahan tidak bisa disebut media self-healing, tak ada salahnya bila Anda ingin mencobanya, asalkan dengan tujuan yang jelas dan positif.
Selain itu, pastikan ada usaha lanjutan untuk membantu diri menjadi lebih baik. Misalnya, setelah merusak barang di rage room dan emosi mereda, Anda perlu merefleksi diri untuk mengetahui inti permasalahan atau kondisi yang sedang dialami.
Kemudian, buat rencana berikutnya seperti konsultasi dengan psikolog, ataupun diskusi dengan orang terpercaya untuk mengatasi gangguan psikis yang dirasakan.
Penelitian mengungkapkan, tambah Gracia, penggunaan sarana merusak barang terus-menerus tanpa usaha lanjutan, justru dapat meningkatkan dorongan berperilaku agresi.
Dalam psikologi, istilah agresi mengacu kepada perilaku yang dapat mengakibatkan kerusakan fisik dan psikologis pada diri sendiri, orang lain, atau objek di sekitarnya.
Saran dari Psikolog Gracia, Anda dapat berkonsultasi dengan terapis atau psikolog untuk mendapatkan cara tepat mengatasi stres.
Ia menjelaskan, self healing tidak hanya seputar hal psikologis. Fisik yang sehat juga mendukung penyembuhan mental. Self healing pun butuh proses, tidak bisa terjadi sekejap.
Beberapa hal di bawah ini dapat Anda lakukan dalam proses self healing:
- Olahraga dan atur pola hidup sehat.
- Relaksasi.
- Melakukan self reflection.
- Berlatih mindfulness.
- Menetapkan, merencanakan, dan menerapkan langkah pengembangan diri.
- Berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pastikan untuk melakukan langkah-langkah di atas secara rutin untuk merasakan manfaatnya. (net)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















