
Jika tercipta keseimbangan antara karier dan mengurus keluarga, ibu bekerja dapat menjadi panutan bagi anak, khususnya pandangan bahwa wanita tak selalu berada di posisi inferior.
- Kepala Keluarga
Dampak yang terjadi saat karier ibu lebih berhasil dibandingkan suami adalah terdapat dua dominasi di dalam keluarga. Hal ini dapat menjadi potensi perpecahan di dalam keluarga.
Hadirnya anak dapat memperparah kondisi ini. Karena itu, pembagian tanggung jawab harus jelas dan dilakukan secara konsisten.
- Waktu
Salah satu hal yang sulit dilakukan adalah membagi waktu. Kesibukan orang bekerja akan membuat waktu untuk dihabiskan dengan anak semakin sedikit.
Siapa yang menemani anak belajar? Siapa yang belanja bulanan? Siapa yang akan menyiapkan makan malam? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi akan terus terulang.
Tak hanya itu, menentukan waktu liburan keluarga pun menjadi lebih sulit karena harus saling menyesuaikan jadwal cuti. Untuk menghindari konflik, sebaiknya pembagian waktu ini harus disepakati sejak awal dan tak lupa bersiap-siap jika ada kondisi yang mengharuskan Anda atau pasangan mengalah.
- Rekan Kerja
Ibu yang bekerja tentu akan memiliki rekan kerja, baik sesama maupun lawan jenis. Interaksi yang terjadi tak hanya di dalam, tetapi juga di luar kantor.
Lazimnya, akan selalu ada sahabat akrab yang pastinya terasa menyenangkan karena menghadirkan suasana baru. Nah, membagi keseimbangan antara pekerjaan, sosialisasi dengan rekan kerja, dan keluarga akan menjadi masalah yang harus diantisipasi.
Tetapkan prioritas bersama pasangan. Jika pasangan merupakan pribadi pencemburu, sebaiknya Anda berhati-hati untuk tidak melanggar batas yang nantinya dapat memunculkan konflik yang tidak perlu.
Jadi, tak ada yang lebih salah atau lebih benar antara menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga. Tapi tentu saja keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab berdasarkan kompromi dengan pasangan.
Ada satu hal lagi yang harus dimiliki dan dijaga baik oleh ibu rumah tangga maupun ibu bekerja: sebagai penopang kesehatan keluarga, keduanya harus sama-sama memprioritaskan kesehatan keluarga tanpa menomorduakan kesehatan dirinya.
Cara-cara yang bisa dilakukan adalah dengan memiliki pola pikir dan pola hidup sehat. Imbangi juga dengan pola gerak tubuh yang cukup sebagai amunisi untuk menghindari penyakit-penyakit akibat kolesterol tinggi seperti jantung koroner dan stroke.
Pria memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami peningkatan kadar kolesterol yang berlebih dan penyakit jantung koroner dibandingkan wanita.
Hal itu karena wanita memiliki hormon estrogen yang punya fungsi protektif untuk menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). Meski demikian, tidak berarti bahwa wanita terbebas dari risiko tersebut.
Faktanya, setelah mengalami menopause yang menyebabkan penurunan produksi hormon estrogen, wanita akan kehilangan manfaat tersebut. Risiko naiknya kadar kolesterol jahat dan penyakit jantung koroner juga dapat meningkat jika wanita kurang aktif dan menjalani gaya hidup sedenter.
Oleh sebab itu, terlepas dari pilihan untuk berkarier atau menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, wanita harus tetap aktif setiap harinya.
Terapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan mengandung plant stanol ester untuk menurunkan kadar kolesterol.
Baik menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, keduanya memiliki konsekuensi dan tantangannya masing-masing. Apa pun pilihan Anda, pastikan untuk melibatkan pasangan sebelum membuat keputusan yang terbaik untuk keluarga. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















