Ciri-ciri ekshibisionis

Gangguan seksual ekshibisionis memiliki satu gangguan perilaku yang khusus yaitu memamerkan alat kelaminnya kepada orang asing atau orang yang tak bersedia (melihat) dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan seksual, mengurangi kecemasan, ataupun memperkuat egonya.

Namun adakah ciri-ciri khusus yang terlihat dari seorang ekshibisioner? Alvina mengungkapkan bahwa tak ada tidak ada ciri-ciri spesifik yang menandakan penderita ekshibisionisme, namun ada kemungkinan orang tersebut juga memiliki gangguan jiwa yang lain, kesulitan dalam bersosialisasi, serta memiliki kepercayaan diri yang rendah. Ekshibisionis biasanya merasa berbeda sehingga semakin menarik diri dari pergaulan sosial dan merasa malu

Dokter ahli kesehatan jiwa Rivo Mario dari Awal Bros Bekasi Utara mengungkapkan juga bahwa ciri-ciri awal yang mungkin bisa kenali adalah dari cara seseorang berbicara tentang fantasi seksualnya.

“Khususnya tentang fantasi mereka mau memamerkan alat kelaminnya pada orang asing. Itupun jarang ya orang mau terbuka tentang fantasi seksualnya,” ucapnya.

“Mungkin sudah ada rasa cemas atau stres berlebihan sehingga kurang baik mengelola stres sehingga muncul urge seksual yang menyimpang tersebut.”

BACA JUGA :  Bolehkah Kulit Hewan Kurban Dijual? Ini Penjelasan Hukumnya dalam Islam

“Kalau sekadar fantasi atau pikiran seksual saja masih belum bisa dibilang ekshibisionis, kalau sudah melakukan dan membuat dirinya atau orang lain resah atau tidak nyaman baru dibilang gangguan.”

Perilaku ekshibisionis ini dimulai dengan pola pikir, para penderita kemudian menunggu waktu yang tepat untuk membuat dorongan atau impuls seksual tersebut menjadi kenyataan.

Kalau dia bisa kelola dorongan atau impuls seksual itu dengan baik maka kemungkinan besar tidak menjadi gangguan ekshibisionis.”

“Hasrat seksual mereka masih sama seperti orang pada umumnya, namun yang menjadi ketertarikannya ada pada fantasi atau tindakan memamerkan alat kelamin.”

Berdasarkan teori respons seksual, umumnya kegiatan seksual seseorang selalu dimulai dengan pikiran atau fantasi tertentu. Dimulai dengan bertemu lawan jenis, suka, lalu berpikiran untuk berhubungan seksual karena punya fantasi tertentu dengan orang tersebut

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

“Hanya saja pada kasus ekshibisionis, para penderita memiliki fantasi seksual yang sama namun ‘obyeknya’ berbeda dari norma sosial, budaya, dan agama yaitu dengan pamer alat kelamin.”

Terdapat dampak berkelanjutan dalam diri ekshibisionis diantaranya yaitu sesaat merasakan kepuasan seksual dan kemudian mungkin merasa bersalah namun tidak bisa menahan dorongan untuk melakukannya kembali.

Kepuasan ini bisa diartikan ada gairah seksual yang didapatkan dari pikiran sehingga muncul perilaku seksualnya. Selain itu, kepuasan juga diartikan bahwa pelaku akan mengalami orgasme setelah melakukan hal tersebut.

Hanya saja, terkait kepuasan, dokter kesehatan jiwa RS Awal Bros Bekasi Timur, Martha mengungkapkan bahwa tidak semua pelaku ekshibisionis ini mendapatkan kepuasan seksual.

“Biasanya (puas seksual) tapi tidak selalu. Aksi ini lazim diikuti dengan masturbasi.”

“Ekshibisioner melakukannya mendadak, spontan. Tapi bisa diwaspadai. Kalau ada laki-laki menunjukkan sikap mencurigakan seperti memegang celana sambil berdiri, tengak-tengok sebaiknya hati-hati,” sarannya. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================