Harga daging sapi
Belum tuntas permasalahan melonjaknya harga kedelai impor belakang ini hingga membuat para pemilik usaha tempe dan tahu tercekik, kini disusul harga daging sapi turut melambung tinggi. Foto : istimewa.

 BOGOR-TODAY.COM, JAKARTA – Belum tuntas permasalahan melonjaknya harga kedelai impor belakang ini hingga membuat para pemilik usaha tempe dan tahu tercekik, kini disusul harga daging sapi turut melambung tinggi.

Kenaikan harga daging tersebut dikeluhkan Ida, salah satu pedagang di Pasar Penampungan Tohaga Parung Panjang, Bogor. Dirinya mengaku kewalahan menanggapi pertanyaan para pembeli. Saat ini, kata Ida dirinya menjual daging sapi di kiosnya di harga Rp 130 ribu per kilogram atau naik dari kondisi normal Rp 110 ribu per kilogram.

“Untungnya pembeli tetap ada yang beli daging sapi karena butuh,” aku Ida. Namun dari catatannya, jumlah pembeli anjlok hingga 30 persen karena harga komoditas itu naik bertahap mulai bulan lalu. Ia memperkirakan harga daging sapi bakal terus naik hingga ramadan mendatang.

Pantauan situs hargapangan.id, data harga rata-rata nasional untuk daging sapi kualitas 1 per Selasa, 2 Maret 2022, berada di kisaran Rp 128.900 per kilogram. Sedangkan untuk daging sapi kualitas 2 berada di angka 120.700 per kilogramnya.

Harga daging sapi tertinggi terdapat di Lhoksumawe sebesar Rp 151.250 per kilogram. Sementara harga daging sapi di DKI Jakarta dan Bandung masing-masing di Rp 140.850 dan Rp 150.000 per kilogram.

Kenaikan harga daging sapi ini tak hanya dikeluhkan para pembeli tapi juga kalangan pedagang. Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur, Muthowif, memperkirakan harga daging sapi segar bakal naik menjadi Rp 130 ribuan per kilogram menjelang bulan Ramadan.

Bukan hanya karena kenaikan permintaan pasar, menurut dia, harga daging sapi naik karena belakangan mulai ada kelangkaan stok sapi siap potong. “Sapi siap potong yang ada di pasar sapi tradisional di Jatim mulai langka, sedangkan stok sapi dari negara tetangga seperti Australia dan Brasil juga sangat minim. Sehingga harga sapi hidup terus mengalami kenaikan,” katanya.

Saat ini, harga sapi siap potong dari Australia dijual seharga Rp 54.000 per kilogram timbang hidup. Bila dikonversi ke dalam harga daging segar menjadi sekitar Rp 132.500 per kilogram.

Dari penelusurannya, kata Muthowif, harga sapi potong mulai naik di sejumlah pasar di Tuban, Bojonegoro, Kediri, Malang dan Probolinggo sejak sebulan terkahir. Kenaikan harga berkisar Rp 1,5 juta – 2 juta per ekor. Jadi bila dikonversi ke daging segar, harganya Rp 2.000 – 3.000 per kilogram.

Bila menyesuaikan kondisi di Jakarta dan Lampung, menurut dia, harga sapi siap potong di Jawa Timur bisa terus naik jadi Rp 51.000 per kilogram timbang hidup dari harga sebelumnya Rp 48.000. “Kalau dikonversi ke harga daging segar, maka harganya bisa menjadi menjadi Rp 120.000 – Rp 125.000 per kilogram,” kata Muthowif.

Jika pemerintah tak segera mengambil tindakan, tak Muthowif menyatakan, para pedagang daging di Jakarta dan sekitarnya sudah berencana untuk mogok tidak berjualan. “Sekedar mengingatkan, pada 2012, dimana-mana jagal mogok dan tidak jualan daging segar di pasar tradisional,” ucapnya.

Baca Juga :  Pasca Acara BSF CGM 2023 di Kota Bogor, 2 Ton Lebih Sampah Menumpuk

Hal senada disampaikan oleh Sekretaris Asosiasi Pedagang Daging Indonesia, DKI Jakarta, Mufti Bangkit Sanjaya. Ia menyatakan para pedagang daging bakal mogok jualan selama lima hari mulai Senin pekan depan.

“Rencana pedagang daging menghentikan aktivitas penjualan daging serentak selama lima hari di Jabar dan sekitarnya,” katanya.

Ia menuding kebijakan pemerintah yang pro korporasi besar melanggengkan monopoli dan kartel komoditas daging dan sapi. Akibatnya, pedagang kecil yang juga rakyat kecil kian kesulitan bertahan hidup di tengah pandemi.

Menurut Mufti, saat ini harga daging sapi dinilai konsumen sudah terlalu tinggi. Apalagi daya beli masyarakat menurun di masa pandemi Covid-19.

Mufti menjelaskan, harga daging sapi yang masih terbeli masyarakat di kisaran Rp 120.000 per kilogram. “Tapi ironisnya pedagang harus mendapatkan Harga pokok penjualan (HPP) lebih kurang Rp 130.000, tentunya rugi. Dilematis kalau harus melihat breakdown modal para pedagang dan biaya-biaya operasional lainnya.”

Pengelola usaha rumah potong hewan (RPH) Tunas Karya Muhammad Ade Suwandi memaklumi alasan para pedagang di Tangerang Selatan yang menjual harga daging sapi dari semula Rp 110.000 menjadi Rp 130.000 per kg.

“Benar untuk harga jual pasar naik dari awal Rp 110.000 per kg. Mau enggak mau sekarang jadi Rp 130.000 per kg,” ujar Suwandi.

Alasannya, kenaikan harga yang terjadi dari RPH ditambah dengan biaya operasional lainnya.

Seperti biaya jasa angkut, biaya jasa karyawan untuk mencacah daging sapi dan biaya prosedural lainnya.

“Kalau di total bisa Rp 125.000 per kg untuk modalnya saja. Mau enggak mau mereka (pedagang) jual harga Rp 130.000,” lanjutnya

Ia menuturkan, harga jual daging sapi karkas (sapi yang sudah dipotong RPH) kepada pedagang saat ini mencapai Rp 107.000 hingga Rp 110.000 per kg.

Harga tersebut naik Rp 5.000 sejak dua minggu lalu dari sebelumnya hanya Rp 102.000 hingga Rp 105.000.

Padahal, sebelum pandemi Covid-19 harga daging sapi karkas masih Rp 85.000 per kg. Harga kemudian terus mengalami kenaikan hingga saat ini.

Sebagai Komisaris Utama pabrik pakan ternak PT WIN AGRI JAYA, Wandi juga membeberkan awal mula alasan harga jual RPH kepada pedagang daging sapi naik.

Hal itu disebabkan oleh kenaikan harga pakan ternak yang berakibat pada naiknya biaya perawatan sapi.

“Sehingga harga pokok penjualan (HPP) naik semua. Untuk pakan ternak sapi (konsentrat) saja itu naik dari Rp 3.100 per kg menjadi Rp 3.300 per kg,” jelas Wandi.

Adapun bahan pakan ternak sapi merupakan hasil bahan baku campuran dari bungkil kedelai (soya bean meal) yang dianggap menjadi sumber protein tinggi bagi pakan sapi.

Untuk harga Soya Bean Meal saat ini, yaitu Rp 9.800 per kilogram. Harga ini memgalami kenaikan dari sebelumnya hanya berkisar Rp 8.600 per kilogram.

Baca Juga :  Polisi Berhasil Ringkus Pemuda di Kota Bogor, Ini Kronologinya

“Peternak lokal kesulitan mengenai harga pakan ternak sebagai bahan baku. Karena pakan ternak naik, jadi harga sapi lokal di Indonesia mau enggak mau naik juga,” pungkasnya.

Wandi menjelaskan, tak hanya harga daging sapi lokal yang mengalami kenaikan, harga sapi impor juga.

Sebelumnya, harga sapi impor yang masih hidup yakni sebesar Rp 52.000 per kg. Kemudian mengalami kenaikan menjadi Rp 57.000 per kg.

Sapi yang dibeli dari importir tersebut harus dirawat terlebih dahulu selama kurang lebih 120 hari oleh peternak di Indonesia untuk masa pemulihan.

Dengan diberi pakan ternak yang sudah mahal untuk proses penggemukan, harga sapi impor terlebih dahulu naik dibandingkan harga sapi lokal.

Barulah setelah dipotong dan dijual kepada pedagang, baik harga daging sapi lokal maupun harga daging sapi impor memgalami kenaikan.

“Untuk harga daging sapi impor karkas sebelumnya Rp 102.000 per kg. Sekarang naik jadi Rp 107.000 per kg,” pungkas Wandi.

Sementara, Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagangan (Bapokting Kemendag) Isy Karim bersuara mengenai harga daging yang merangkak naik.

Isy mengatakan bahwa saat ini harga daging sapi relatif stabil, yaitu sebesar Rp127,400 per kilogram atau naik sekitar 0,63 persen dibandingkan bulan lalu. Kenaikan ini diperkirakan akibat fluktuasi harga bahan pokok secara dunia yang terjadi terus menerus.

“Kenaikan harga kedelai dan daging sapi ditengarai terjadi akibat adanya commodity super cycle yang terjadi di seluruh dunia,” ujar Isy belum lama ini.

Selain fenomena commodity super cycle, Isy memperkirakan harga akan terus naik dalam beberapa bulan ke depan akibat harga sapi Australia mengalami kenaikkan.

“Khusus daging sapi, dalam beberapa bulan kedepan harga diperkirakan masih akan mengalami kenaikan diatas harga acuan dikarenakan kenaikan harga sapi bakalan di negara asal khususnya Australia,” kata Isy.

Melihat harga rata-rata daging sapi sejak 2017 hingga 2019 cenderung stabil di kisaran Rp117,000 sampai dengan Rp119,000 per kilogram. Baru pada 2020, harga daging sapi secara perlahan mengalami kenaikan sebagai dampak kebijakan depopulasi sapi hidup dari Australia akibat terjadinya kebakaran hebat di negara pemasok utama sapi bagi Indonesia tersebut.

Isy mengatakan bahwa guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga daging sapi pemerintah berupaya untuk menyediakan alternatif terhadap daging segar. Alternatif tersebut berupa daging sapi beku dan daging kerbau beku sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan asupan protein hewani dengan harga terjangkau.

Dia turut menekankan bahwa pemerintah mengutamakan pengadaaan dari dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan barang kebutuhan pokok masyarakat

“Adapun impor adalah opsi terakhir yang dilakukan pemerintah apabila memang produksi dalam negeri tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan,” tutup Isy. (*)

Bagi Halaman