
“Sementara di motif sarung pesanan tersebut, tidak muncul unsur flora bunga tanjungnya. Padahal ini cukup sensitif dalam pandangan atau keyakinan umat islam. Kenapa? Pada saat itu unsur flora lebih ditonjolkan karena untuk menghindari multitafsir menggambar makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki nyawa (fauna),” terang Rubikah.

Budayawan dari Drajat, Lamongan Hidayat Iksan juga menyatakan tidak benar jika motif yang ada di sarung tersebut adalah motif anjing. Yang benar adalah motif Singo Mengkok. Motif Singo Mengkok ini, menurut Hidayat, sebagai ciri khas penyangga gamelan Singo Mengkok milik Sunan Drajat dengan Tembang Pangkurnya. Hidayat juga menuturkan, sarung tersebut adalah sarung pesanan khusus dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan.
“Tidak benar kalau itu dikatakan anjing. Gambar tersebut bukan anjing, tetapi Singo Mengkok,” jelas Hidayat.
Hidayat menjelaskan awal dari dakwah Sunan Drajat adalah memakai simbol ini sebagai motif di gamelan, yang terletak di bagian bawah dari gamelan. Gamelan ini menjadi alat dakwah dari Sunan Drajat yang digunakan untuk mengiringi tembang pangkur.
“Arti dari Singo Mengkok sendiri adalah singa yang sedang menahan hawa nafsu dan tunduk di hadapan Allah. Pendapat lain mengatakan bahwa makna singa yang membungkuk itu adalah manusia yang kuat adalah manusia yang dapat menundukkan hawa nafsunya,” papar Hidayat.
Hal senada juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Lamongan, Supriyo yang menyebut jika motif yang ada di sarung tersebut adalah motif Singo Mengkok dan bukan motif anjing. Motif Singo Mengkok selain ditemukan di gamelan Sunan Drajat, juga ditemukan di Sendang Duwur yang juga berada di Kecamatan Paciran.
“Selain di gamelan Sunan Drajat, motif Singo Mengkok juga ada di bagian kaki depan gapura tengah Sendang Duwur,” pungkasnya. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















