
Rudi menjelaskan, dari studi kelayakan dilakukan Colas Rail. Sebagai koridor trem pertama di Kota Bogor akan menempuh rute sepanjang 8 kilometer dengan sistem looping tol Jagorawi, terminal Baranangsiang, Jalan Otto Iskandardinata, Juanda, Kapten Muslihat, Nyi Raja Permas, Dewi Sartika, Sawo Jajar, Sudirman dan Pajajaran.
Saat ini, kita ingin integrasi masuk ke dua proyek stategis nasional, seperti double track dan saat ini ada FS (feasibility study) dari BPTJ (Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek) sebagai perpanjangan jalur kereta perkotaan antara Jakarta, Bogor sampai Lido Cigombong.
“Nah, sekarang saja sudah 600 ribu penumpang harian di stasiun Bogor, kalau nanti double track Bogor-Sukabumi jadi dan optimalisasi 8 trip ditambah perpanjangan jalur perkotaan sampai dengan Lido maka proyeksi kebangkitan perjalanan makin besar,” jelasnya.
Rudi melanjutkan, kedua ingin terintegrasi dengan proyek strategis nasional Light Rait Transit atau LRT Jabodebek yang saat ini lintasan pelayanannya sudah mencapai Cibubur. Dimana dalam Perpres 55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ), LRT tersebut titik akhirnya di Kota Bogor.
“Jadi kalau itu ditindaklanjuti oleh pusat sampai dengan Baranangsiang maka bangkitan perjalanan akan kuat, maka ada konektifitas yang dihantarkan oleh trem antara LRT Baranangsiang sampai dengan Stasiun Bogor, kemudian looping di jalur tengah kota, itu tahap pertamanya,” ucapnya.
Pihaknya memiliki target realistis trem sudah bisa beroperasi pada 2025 mendatang. “Target operasional harus lewat di tahun 2024, tapi semua ikhtiarnya kita upayakan agar legasi administratif, perencanaan bisa selesai di tahun 2023 dan 2024. Nantinya ada 17 stasiun dan trem-nya baru,” pungkasnya. (Aditya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















