BOGOR-TODAY.COM – Capung atau papatong (bahasa sunda, red) adalah kelompok serangga yang tergolong ke dalam bangsa Odonata. Serangga ini rupanya termasuk salah satu serangga yang menjadi indikator lingkungan. Ia hanya akan muncul pada lingkungan yang asri, lingkungan yang tidak tercemar.
Habitat capung menyebar luas, di hutan-hutan, kebun, sawah, sungai dan danau, hingga ke pekarangan rumah dan lingkungan perkotaan.
Capung akan berkembang biak dengan cara meletakkan telurnya pada tetumbuhan yang berada di air. Ada juga jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula jenis yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah menetas, tempayak (larva) capung hidup dan berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis menjadi nimfa.
Sayangnya, capung serangga cantik ini tengah berada diambang kepunahan.
Melansir earth.com, Sabtu (20/8/2022) sebuah temuan dari penilaian global terbaru International Union for Conservation of Nature (IUCN) melaporkan, satu dari enam spesies capung terancam punah.
Ancaman capung itu dikarenakan perluasan pertanian yang tidak berkelanjutan dan arus urbanisasi di seluruh dunia.

Kedua hal itu jadi penyebab hilangnya rawa-rawa, dan sungai yang mengalir bebas. Padahal rawa dan sungai yang bersih jadi tempat capung biasanya berkembang biak.
Kehilangan tempat berkembang biak menjadikan populasi spesies capung mengalami penurunan yang signifikan di seluruh dunia.
IUCN menilai ancaman itu menjadi alarm buruk bagi dunia serangga yang cukup rentang terhadap perubahan lingkungan.
Berdasarkan data yang dimiliki IUCN, populasi capung di dunia tercarat 16 persen dari 6.016 spesies terancam punah. Itu disebabkan oleh kerusakan yang signifikan dari tempat berkembang biak air tawar mereka.
Direktur Jenderal IUCN, Dr Bruno mengungkapkan hilangnya capung secara global merupakan kebutuhan mendesak untuk melindungi lahan basah dunia dan kekayaan kehidupan yang mereka sembunyikan.
“Secara global, ekosistem ini menghilang tiga kali lebih cepat daripada hutan,” kata Bruno
Pentingnya perlindungan ekosistem lahan basah
Menurut Dr Bruno tidak produktifnya rawa dan lahan basah disebabkan tidak ramah bagi manusia. Padahal, rawa dan lahan basah berdampak positif bagi manusia, karena mereka (rawa dan lahan basah) menyimpan karbon, memberi manusia air bersih dan makanan, melindungi dari banjir, serta menawarkan habitat bagi satu dari sepuluh spesies yang dikenal di dunia.
“Spesies capung yang terancam punah paling dominan terjadi di Asia Selatan dan Tenggara, yakni lebih dari seperempat spesies,” ungkap Dr Bruno.
Sementara di Amerika Tengah dan Selatan, hutan dibuka untuk tujuan pemukiman dan komersial, sedangkan yang terjadi di Amerika Utara dan Eropa, ancaman terbesar bagi capung adalah penggunaan pestisida dan polutan lainnya secara ekstensif, serta kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim.
“Capung adalah indikator yang sangat sensitif dari keadaan ekosistem air tawar. Dan penilaian global pertama ini akhirnya mengungkapkan skala penurunan mereka. Ini juga memberikan dasar penting yang dapat kita gunakan untuk mengukur dampak upaya konservasi,” kata Ketua Bersama Grup Spesialis Capung SSC IUCN, Dr Viola Clausnitzer.
Ia menyarankan bahwa untuk melestarikan serangga yang indah ini, maka sangat penting bagi pemerintah, pertanian, dan industri untuk mempertimbangkan perlindungan ekosistem lahan basah dalam proyek pembangunannya, misalnya dengan melindungi habitat utama dan mendedikasikan ruang untuk lahan basah perkotaan.
Temuan akan ancaman kepunahan ratusan spesies capung tersebut, tentu menjadi suatu bencana tersendiri bagi dunia serangga.
Dan jika itu terjadi, generasi sekarang dan yang akan datang, bisa kehilangan kenangan tentang capung, tidak peduli mereka lahir di daerah pegunungan atau persawahan sekali pun. Capung sangat mungkin hanya akan mereka lihat melalui foto atau potongan video. (*)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















