ISLAM ITU TIDAK MENGENAL PENSIUN

OPINI HERU B SETYAWAN
Menurut penulis opini ini, profesi dibidang pendidikan dan kesehatan usia pensiun nya lebih panjang jika dibanding dengan bidang pekerjaan yang lain. (FOTO : IST)

Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

SEPERTI kita ketahui dalam dunia kerja ada istilah pensiun atau purna bakti yaitu, batas usia karyawan untuk mengakhiri masa kerjanya di tempat mereka mengabdi selama ini.

Memang usia pensiun berbeda-beda tergantung jenis pekerjaan dan kepangkatan atau golongannya.

Profesi dibidang pendidikan dan kesehatan usia pensiun nya lebih panjang jika dibanding dengan bidang pekerjaan yang lain.

Demikian juga pangkat atau eselon, jika pangkatnya dan eselonnya lebih tinggi ya usia pensiun nya lebih panjang, itu semua untuk pegawai negeri.

Sementara untuk perusahaan swasta aturan untuk pensiun biasanya di mulai dari usia 55, 56, 57, 58 dan 60 tahun.

Bahkan ada sekolah yang aturan pensiunnya sampai wafat (sekuatnya guru tersebut mengajar). Hal ini juga berlaku untuk guru besar (Profesor) yang menjadi dosen.

Meski sudah sepuh tetap masih mengajar, karena ilmunya sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa atau mahasiwi.

Tapi menurut Islam dalam hidup ini tidak mengenal istilah pensiun, pensiunnya ya nanti ketika kita meninggal dunia. Meski sejatinya justru ketika wafat itulah kehidupan sebenarnya baru kita mulai.

BACA JUGA :  Sering Kram Kaki? Waspadai 7 Penyakit Ini sebagai Penyebabnya

Dan inilah buktinya teladan kita sebagai seorang muslim yaitu Nabi Muhammad SAW, saat beliau berusia 55 sampai 60 tahun.

Nabi Muhammad dan para sahabat masih melakukan peperangan untuk membela agamanya Allah. MasyaAllah luar biasa bukan.

Rosul dan para sahabat di usia yang tidak muda lagi masih produktif bahkan berjihad dengan berperang.

Contoh ke dua ini juga terjadi kebanyakan di kehidupan sehari-hari di pondok pesantren. Suatu ketika almarhum Ustadz Muhammad Arifin Ilham bertanya kepada gurunya.

Mengapa guruku tiap hari ngajar santri dari subuh sampai siang, kemudian guruku ngajar di luar atau menerima tamu yang banyak sekali.

Setelah itu bada isya sampai jam 21.00 guruku ngajar santri lagi. Terakhir saat saya mau tahajud sekitar jam 03.00 guruku sudah berdzikir di masjid.

BACA JUGA :  Timnas Indonesia U-19 Hadapi Timor Leste Malam Ini, Garuda Muda Incar Tiket Semifinal AFF U-19 2026

Terus pertanyaan saya, kapan guruku istirahatnya? Beliau dengan tersenyum menjawab nanti istirahatnya jika Abi sudah wafat menghadap Allah.

Yang terakhir contoh ke 3 adalah salah satu guruku yaitu Habib Mahdi Assegaf yang punya cita-cita ingin berdakwah sampai akhir hayatnya.

Artinya beliau ingin wafat saat mau dakwah, pas dakwah dan habis dakwah. Hal ini saya lihat sendiri, meski dalam kondisi sakit dengan infus di tangan, beliau tetap hadir untuk mengisi tausyiah.

Jadi kesimpulannya dari 3 contoh di atas yaitu Nabi Muhammad SAW, Abi (gurunya Ustadz Muhammad Arifin Ilham) dan Habib Mahdi Assegaf (guru penulis) tidak mengenal pensiun dalam hidup ini.

Ketiganya meski usia sepuh, kecuali Habib Mahdi Assegaf yang masih muda, tapi sudah berpikir seperti orang tua, ketiganya masih produktif dengan berdakwah. Jayalah Indonesiaku. ***

 

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================