
Terkait pro dan kontra mengenai anggaran sebesar Rp 125 juta untuk membangun toilet di sekolah dasar, Profesor Rachmad meminta pemerintah untuk melihat langsung kondisinya di lapangan.
“Pada dasarnya, di kampus kami yang notabene swasta, dana sebesar Rp 125 juta dapat digunakan untuk membangun ruang kuliah yang mewah bagi mahasiswa. Ini jauh lebih bermanfaat. Oleh karena itu, mari kita saling mempertimbangkan program-program yang menjadi prioritas,” tutup Rachmad.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mendapatkan kritik dari masyarakat karena membangun 15 toilet dengan biaya sebesar Rp 125 juta. Pada tahun 2023 ini, Dinas Pendidikan Sumenep juga memiliki rencana untuk membangun 20 unit toilet dengan nilai proyek yang sama, yaitu Rp 125 juta.
Ketidaksesuaian antara penampilan “toilet mewah” ini dengan harganya yang fantastis semakin membuat masyarakat kesal. Dinas Pendidikan Sumenep menyebut bahwa anggaran sebesar Rp 125 juta yang dikeluarkan untuk pembangunan toilet dianggap kurang.
“Jika mengacu pada standar perhitungan yang ada, sebenarnya angka Rp 125 juta ini masih kurang,” kata Ardiyansah, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Sumenep. (Net)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














