BERCAK PUTIH SUSU, APAKAH ITU VITILIGO?

Oleh : dr. Ricky Julianto

BULAN Juni diperingati sebagai Bulan Vitiligo. Hari Vitiligo Sedunia jatuh pada tanggal 25 Juni. Sudah tahukah Anda apa itu vitiligo?

Vitiligo adalah sebuah kondisi dengan gangguan pigmentasi kulit yang ditandai adanya bercak putih pada kulit penderitanya.

Sebuah penelitian dari Krüger dan Schallreuter pada tahun 2012 menyimpulkan bahwa ada sekitar 0.5 – 2 % prevalensi penderita vitiligo di seluruh dunia.

Untuk prevalensi penderita vitiligo di Indonesia belum ada data yang pasti, namun diperkirakan tidak berbeda jauh dari prevalensi penderita vitiligo di dunia.

Di dalam kulit manusia terdapat sel melanosit. Sel ini bertugas untuk menghasilkan melanin yang berfungsi untuk memberi warna pada kulit.

Pada penderita vitiligo, sel melanosit ini rusak sehingga tidak ada pigmen melanin pada kulit. Keadaan tidak adanya pigmen ini akan terlihat sebagai bercak putih pada kulit di bagian tubuh penderita vitiligo.

Penyebab pasti dari kondisi vitiligo ini belum diketahui. Namun, ada beberapa teori yang telah dikemukakan sebagai alasan mengapa seseorang dapat menderita vitiligo.

Sebuah ulasan dari Bergqvist dan Ezzedine pada tahun 2020 tentang vitiligo telah merangkum beberapa teori tentang penyebab rusaknya sel melanosit pada penderita
vitiligo.

Teori yang pertama adalah genetik. Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa adanya bukti yang kuat antara faktor genetik dengan perkembangan vitiligo.

BACA JUGA :  Jumlah Hewan Kurban di Kota Bogor Tembus 15.800 Ekor, Naik 1.400 dari Tahun Lalu

Sekitar 20% penderita vitiligo memiliki anggota keluarga tingkat pertama yang juga mengalami kondisi ini.

Risiko relatif vitiligo bagi kerabat tingkat pertama dapat meningkat sekitar 7 hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan populasi umum. Teori yang kedua adalah stress oksidatif.

Stress oksidatif adalah sebuah fenomena yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh.

Peristiwa inilah yang merupakan awal dalam penghancuran melanosit. Teori yang ketiga adalah imunitas alami (innate immunity) dan imunitas adaptif.

Aktifasi imunitas alami ini muncul setelah adanya sinyal stress dari sel melanosit. Sehingga muncul antibodi yang memicu penghancuran melanosit.

Gejala yang ada pada penderita vitiligo adalah munculnya bercak berwarna pudar hingga putih susu.

Bercak putih ini dapat muncul di bagian kulit mana saja, dan tidak
menular.

Sehingga Anda tidak perlu khawatir akan tertular apabila bersentuhan dengan kulit penderita vitiligo.

Biasanya bercak putih ini dapat bertambah besar dan atau bertambah banyak seiring dengan berjalannya waktu.

Pada umumnya seorang dokter dapat mendiagnosis vitiligo dari pemeriksaan klinis saja.

Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus untuk membantu menegakkan diagnosis vitiligo.

Yang mungkin dapat dilakukan adalah pemeriksaan dermoskopi dan atau pemeriksaan jaringan kulit (biopsi) untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya.

Setelah diagnosis vitiligo telah ditegakkan, maka dokter akan memberikan terapi. Terapi tersebut dapat berupa terapi sinar (phototheraphy), terapi dengan obat oles (topical therapy), terapi obat minum, hingga pilihan terapi bedah jika diperlukan.

BACA JUGA :  Wabup Jaro Ade Apresiasi Bogor Hujan Trail Dorong Sport Tourism dan Penguatan UMKM

Pilihan terapi bergantung kondisi pasien seperti lokasi bercak putih, seberapa luasnya bercak putih, hingga usia pasien penderita vitiligo.

Lokasi wajah, leher, batang tubuh, dan anggota gerak bagian tengah memiliki respons terhadap terapi yang lebih baik dibandingkan dengan bibir dan anggota gerak bagian ujung.

Diperlukan 2 hingga 3 bulan untuk melihat keberhasilan dari terapi yang didapat oleh penderita vitiligo. Apakah vitiligo dapat disembuhkan ? Sampai saat ini, vitiligo belum dapat disembuhkan.

Yang dapat dilakukan adalah menyamarkan bercak putih tersebut. Namun hal ini tidak dapat mencegah munculnya bercak putih di bagian tubuh lainnya.

Hal penting yang perlu dipahami oleh penderita vitiligo dan orang sekitarnya adalah dampak psikososial dari vitiligo.

Kulit memiliki peran penting dalam interaksi seharihari. Perubahan warna kulit pada penderita vitiligo dapat mempengaruhi persepsi diri dan kepercayaan diri penderitanya.

Penderita vitiligo sering mengalami masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan rasa malu, yang dapat menyebabkan rendah diri dan isolasi sosial.

Oleh karenanya, selain pendekatan terapi secara klinis, diperlukan pula dukungan emosional dan psikologis dari keluarga dan teman untuk penderita vitiligo dalam menghadapi perasaan negatif tersebut. ***

 

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================