
“Sebenarnya kita sudah menduga pasti akan terkendala kelas-kelas yang berdekatan ini kan saling melihat bahkan di sebelahnya itu kalau sudah selesai belajar agak mengganggu sebelahnya juga kita melihat bahan-bahan kayak bambu ini tidak akan bertahan lama. Tembok aja bisa jebol apalagi bambu ini, memang agak terganggu,” ujarnya.
Sementara itu, ruang kelas yang sudah di bangun ada dua lokal, yaitu satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan satu ruangan perpustakaan yang juga digunakan untuk proses aktivitas belajar mengajar.
“Pascagempa memang kita dibangunkan tapi bukan dari ruang kelas baru (RKB) di bangun ruang UKS satu dan ruang perpustakaan yang itu kita gunakan untuk belajar juga, pascagempa itu ada dua RISHA yang di sebelah utara itu untuk kelas satu dan dua, sementara yang sisinya itu yang kita buat ini,” jelasnya.
Eko melanjutkan, sekolahnya rencana akan dibangun tahun depan, bahkan pihak sekolah mendapatkan bantuan rehab dari dana aspirasi anggota dewan yang nilainya Rp 200 juta.
“Memang ini dijanjikan di bangun tahun depan dan sekarang ini lagi proses ada dari dewan dana aspirasi sekitar Rp 200 juta untuk rehab ini, kalau koordinasi sama dinas sudah bagus sih. Sudah kita dijanjikan bahkan sudah disiapkan tempat ini sebagai prioritas,” tuntasnya.
Salah seorang siswa kelas enam, Nina mengaku ia setiap hari belajar di ruang yang jauh dari kata layak tersebut, bahkan jika musim hujan ruang kelas mereka tergenang banjir. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















