
“Saya tahu warga nggak enak tapi di sisi lain mereka pasti memanfaatkan momentum bisa mukul (melalui lomba gebuk bantal) wali kota pakai bantal, kedua selalu seru lihat panjat pinang karena ini masalah strategi, karena melihat, mengamati strategi mereka selalu seru,” katanya.
Untuk tarik tambang Bima Arya yang satu tim dengan Forkompinda mengaku menyerah. Hal itu terbukti ketika Forkompinda mengikuti perlombaan tarik tambang bersama warga di sesi pertama mengalami kekalahan dan di sesi kedua Forkompinda bisa meraih kemenangan.
Namun saat akan menentukan pemenang pada sesi 3 Bima Arya dan Forkompinda mengangkat tangan.
“Ya, kalau tarik tambang kita ngaku kalah deh, semua (warga) berotot tanpa lemak semua, kekuatannya melebihi kita, kita sadar diri kita ngalah,” kata Bima Arya sambil tertawa.
Ia pun berharap tradisi ini bisa terus dijalankan oleh pejabat wali kota ke depan ataupun orang yang akan memimpin Kota Bogor selanjutnya.
“Karena pemimpin harus merakyat, pemimpin harus dekat dengan warganya, karena pemimpin harus ada di tengah-tengah warganya, karena pemimpin harus ada, suka dan duka bersama warganya,” ujarnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















