BOGOR-TODAY.COM – Perubahan krisis iklim dapat mengakibatkan peningkatan permukaan air laut, mengancam eksistensi banyak pulau dengan ketinggian rendah hingga mencapai level ‘tidak layak huni’.
Melansir CNN Indonesia, Senin (20/11/2023) pulau-pulau yang paling rentan terhadap dampak ini termasuk pulau Atoll berbentuk bulat, seperti yang terdapat di Maladewa atau Maldives, Tuvalu, Kiribati, dan Kepulauan Marshall.
Pulau-pulau ini memiliki ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut, menjadikannya sangat rentan terhadap kenaikan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Sejumlah pulau di Kepulauan Solomon yang tak berpenghuni telah lenyap dalam satu abad terakhir akibat gelombang laut.
Pulau-pulau seperti Maladewa, Kiribati, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall, yang termasuk dalam jenis Pulau Atoll, memiliki persentase wilayah yang paling berisiko terhadap kenaikan air laut.
Pulau-pulau dataran rendah lainnya yang terancam oleh perubahan iklim termasuk Mainadhoo di Atol Huvadhoo, Maladewa, dan Roi-Namur di Kwajalein Atoll, Republik Kepulauan Marshall. Para ilmuwan mencatat bahwa ketidakpastian data ketinggian pulau-pulau terpencil ini membuat sulit untuk memprediksi kapan mereka akan tenggelam.
Selain itu, banjir di pulau-pulau Atoll, seperti Roi-Namur, dapat mengakibatkan kontaminasi air tanah dengan garam, menyebabkan kekurangan air minum.
Proyeksi menunjukkan bahwa sebagian besar pulau Atoll mungkin tidak memiliki sumber air minum pada 2060-an, tergantung pada pencapaian target perubahan iklim global.
Pulau Mundoo di Laamu Atoll, Maladewa, juga mengalami banjir besar pada tahun 2004, mengakibatkan pengumuman bahwa pulau tersebut tidak akan dihuni lagi.
Meskipun demikian, beberapa keluarga kembali, meskipun pulau-pulau yang tidak mendapat investasi sektor publik dapat menjadi tidak berpenghuni terlebih dahulu.
Fongafale, di Funafuti Atoll, Tuvalu, sebagai ibu kota, dihadapkan pada risiko banjir yang signifikan pada tahun 2100.
Upaya perlindungan, seperti penambahan dataran tinggi buatan, mungkin tidak cukup untuk menjaga pulau tetap layak huni.
Menurunnya ekosistem dapat merugikan sektor pariwisata, perikanan, dan kemampuan penduduk untuk mendanai solusi, sementara respons global terhadap perubahan iklim akan memainkan peran kunci dalam kelangsungan hidup pulau-pulau dan komunitasnya. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















