
Sementara, Wamendagri RI, Bima Arya menegaskan agar maksimalisasi jemput bola untuk hak-hak pilih bagi pemilih pemula. Termasuk juga lansia, disabilitas, dan masyarakat terlantar. Dan terakhir adalah netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Kita jaga kondusifitas sampai hari pencoblosan. Kita pastikan tidak ada yang berpihak. ASN ini fokus pada melayani dan betul-betul berdiri di atas segalanya. Tadi dijelaskan ya Pak Pj Wali Kota dengan semua KPU, Bawaslu, Forkopimda di Kota Bogor. Semua dikoordinasikan dengan sangat baik,” kata Bima.
Sehingga, harapannya Kota Bogor bisa menjadi contoh dan menginspirasi kota lainnya. Memang, khusus di Jawa Barat kata Bima, ada peta kerawanan yang terindikasi terjadi di wilayah tersebut.
“Konstelasi paslon (pasangan calon) semakin banyak, tentu indikasi kerawanannya semakin tinggi. Kemudian juga konstelasi berdasarkan landscape demografis, etnis, potensi konflik secara laten. Kemudian cuaca, bencana juga dihitung,” katanya.
Untuk Kota Bogor sendiri, mengingat demografis yang rawan bencana, maka masuk dalam salah satu indikator kerawanan tersebut. Bima menjelaskan, ada 27 indikator yang digunakan oleh Kementerian Dalam Negeri untuk mengukur tingkat kerawanan Pilkada.
“Kalau Bogor agak tinggi cuacanya karena kota hujan, kira-kira begitu. Tempat-tempat lain karena banjir, konflik etnis dan lain sebagainya. Tapi saya kira Bogor kategorinya baik, di Jawa Barat termasuk baik,” ungkapnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















