
Rahmi menjelaskan bahwa 20-30 tahun lalu, banyak masyarakat yang masih menggunakan bahan kemasan yang dapat terurai secara alami. Namun, kini, banyak kemasan yang digunakan, baik di pasar maupun dalam upacara keagamaan, terbuat dari plastik.
“Semua itu dilakukan per orang per hari, dan itu menjadi sumber sampah yang lumayan tinggi,” kata Rahmi.
Meskipun ada Pergub (Peraturan Gubernur) yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai, namun kenyataannya banyak orang yang membeli kantong plastik yang dijual massal di pasar-pasar. Hal ini membuat masalah sampah semakin sulit teratasi.
Edukasi menjadi hal yang sangat penting dalam mengatasi persoalan sampah di Bali. Rahmi mengungkapkan bahwa perubahan kebiasaan masyarakat, termasuk para pengusaha pariwisata seperti hotel, restoran, dan kafe, sangat diperlukan.
Hotel, restoran, dan kafe harus mulai memilah sampah dan mengelola sampah organik dengan baik, seperti mengolahnya menjadi pakan atau kompos. Sementara itu, sampah anorganik juga harus dipisahkan dan dikelola dengan tepat.
Rahmi berharap pemerintah dapat memberikan insentif bagi pengusaha pariwisata yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik, serta memberikan solusi mengenai pengelolaan sampah anorganik.
Masalah sampah di Bali bukanlah hal yang bisa diabaikan lebih lama lagi. Rahmi Fajar Harini mengingatkan bahwa jika tidak segera ditangani dengan serius, masalah sampah akan semakin membebani Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional.
Pemerintah, masyarakat, dan sektor pariwisata harus bersinergi untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan bagi pengelolaan sampah di Bali.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















