
Di tempat yang sama, Plt. Kepala DKP Kabupaten Bogor, Bambang Setia Aji menjelaskan ada lima kios pangan dalam program saung inflasi ini dengan tujuan untuk menjaga stabilitas pangan beras utamanya di Kabupaten Bogor ini.
Pada prinsipnya di kios pangan komoditas yang dijual tidak terlalu jauh berbeda dengan yang di jual melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Komoditasnya ada beras, bawang merah, gula, telur, dan sebagainya, dengan harga yang memang relatif lebih murah dari harga pasar.
“Kios atau saung invasi ini adalah reborn atau lahir kembali dari toko tani Indonesia, jadi memang sudah ada sebelumnya, hanya memang kita hidupkan lebih masif lagi. Sementara di urban farming ini ada beraneka benih, bibit, pupuk organik, ada polybag juga peralatan perkebunan dan ada budidaya maggot.
Kami harap ini jadi cikal bakal pekarangan rumah, yang bisa meningkatkan ketahanan pangan khususnya di Kabupaten Bogor. Di urban farming kita juga menyediakan sosialisasi dan edukasi mengenai budidaya sayuran, ayam petelur, pembesaran ikan nila, hidroponik, dan sebagainya,” tutur Plt. Kadis DKP Kabupaten Bogor.
Ia juga menyampaikan, terkait dengan upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Pemkab Bogor melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) telah dilaksanakan sebanyak 56 kali pak, termasuk hari ini.
Dengan total komoditas, beras sudah 245 ton, ayam 20 ton, daging ayam dan daging sapi 7 ton, minyak goreng 45 ton, gula pasir 30 ton, cabai 2 ton, dan bawang merah dan bawang putih kurang lebih 4 ton.
“Kami berharap dengan adanya saung inflasi ini kita bisa menjaga aksesibilitas pangan masyarakat yang berkualitas, aman, bergizi, seimbang dan terjangkau sehingga masyarakat bisa menikmati terhadap kualitas pangan yang baik,” imbuhnya. ( * / Gistin Iliyyin)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















