
Meski mendukung gagasan tersebut, Ahmad Fathoni mengakui bahwa efektivitas program ini dalam mengurangi kemacetan belum dapat dipastikan. Ia menekankan pentingnya pengkajian lebih lanjut terkait jenis bus dan fasilitas pendukung lainnya agar program ini tidak sekadar menjadi wacana.
“Secara inisiatif sudah bagus, tapi nanti harus diatur juga jenis busnya seperti apa,” tutupnya.
Tantangan Implementasi
Di sisi lain, rencana ini menimbulkan sejumlah tantangan. Infrastruktur di kawasan Puncak belum sepenuhnya mendukung keberadaan jalur khusus bus.
Lahan yang terbatas dan kontur jalan yang menanjak menjadi persoalan tersendiri. Selain itu, perubahan perilaku masyarakat dalam beralih ke transportasi publik juga bukan hal yang mudah.
Antara Harapan dan Kenyataan
Kemacetan di kawasan Puncak bukan persoalan baru. Setiap akhir pekan dan musim liburan, jalur ini selalu dipadati kendaraan, terutama wisatawan dari Jabodetabek.
Hadirnya bus ikonik diharapkan mampu menjadi alternatif transportasi yang diminati masyarakat. Namun, tanpa perencanaan matang dan dukungan infrastruktur yang memadai, upaya ini bisa jadi hanya menjadi program sesaat tanpa dampak berarti.
Kini, publik menantikan bagaimana Kemenhub merealisasikan gagasan ini. Akankah bus ikonik tersebut benar-benar menjadi solusi kemacetan di Puncak atau hanya sekadar inovasi. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















