
BOGORTODAY.COM – Makanan Pendamping ASI (MPASI) merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan anak, terutama dalam fase 1.000 hari pertama kehidupan yang dikenal sebagai momen krusial bagi perkembangan otak anak.
Menurut dr. Meta Herdiana Hanindita SpA(K), anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sayur dan buah tidak seharusnya mendominasi menu MPASI.
Meskipun kaya nutrisi, kedua jenis makanan ini mengandung zat anti-nutrisi yang bisa menghambat penyerapan mikronutrien penting bagi tubuh.
Apa itu Anti-Nutrisi?
Anti-nutrisi adalah senyawa yang dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi oleh tubuh, terutama vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak.
Zat-zat ini dapat ditemukan dalam berbagai bahan makanan, khususnya pada makanan berbasis tumbuhan (plant-based), seperti sayur, buah, dan beberapa protein nabati.
Contoh anti-nutrisi antara lain phytic acid, tannin, oxalic acid, dan goitrogen. Phytic acid yang ditemukan pada biji-bijian, misalnya, dapat menghambat penyerapan zat besi dan zinc.
Begitu juga dengan goitrogen yang terdapat dalam sayuran seperti kubis, yang dapat menghalangi penyerapan yodium, serta oxalic acid pada bayam yang menghambat penyerapan kalsium.
Sayur dan Buah dalam MPASI: Pengantar, Bukan Dominasi
Dalam konteks pemberian MPASI, dr. Meta menekankan bahwa peran sayur dan buah sebaiknya tidak lebih dari pengenalan saja pada anak. “Sayur dan buah sebaiknya tidak mendominasi MPASI, karena meskipun mengandung berbagai vitamin, mereka juga membawa serta anti-nutrisi yang dapat mengganggu penyerapan mikronutrien penting,” ujarnya dalam acara temu media bersama IDAI pada Selasa, 21 Januari 2025.
Bagi dr. Meta, prioritas utama dalam MPASI adalah pemberian protein hewani. Makanan yang kaya protein hewani, seperti daging, telur, dan ikan, mengandung zat besi yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak.
Zat besi ini sangat penting karena mempengaruhi kemampuan kognitif dan perkembangan otak yang optimal.
Fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Menentukan Masa Depan Anak
Fase 1.000 hari pertama kehidupan, yang mencakup masa kehamilan hingga usia 2 tahun, adalah periode kritis dalam perkembangan fisik dan mental anak. Asupan gizi yang tepat pada masa ini sangat memengaruhi pertumbuhan otak anak serta perkembangan kognitif mereka di masa depan.
Dr. Meta menjelaskan bahwa kekurangan nutrisi pada tahap ini dapat berdampak signifikan pada perkembangan otak, bahkan memengaruhi kinerja akademis anak kelak.
“Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pemberian asupan protein hewani, yang juga mengandung zat besi yang sangat penting untuk kecerdasan anak,” kata dr. Meta.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami malnutrisi pada masa awal kehidupan memiliki IQ yang lebih rendah dan performa pendidikan yang lebih buruk dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik.
Dampak Jangka Panjang Kekurangan Gizi pada Anak
Kekurangan gizi dalam fase 1.000 hari pertama tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada perkembangan otak dan kemampuan kognitif mereka. “Ada studi yang menunjukkan bahwa anak-anak yang pernah mengalami malnutrisi pada masa kecil, memiliki IQ yang lebih rendah dan nilai yang lebih rendah saat bersekolah,” ungkap dr. Meta.
Lebih lanjut, efek dari malnutrisi ini bisa berlanjut hingga usia dewasa, mempengaruhi durasi pendidikan dan peluang masa depan mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa anak mendapatkan gizi yang tepat pada masa-masa awal kehidupannya.
Pemberian MPASI yang tepat sangat penting dalam mendukung perkembangan anak. Sayur dan buah memang kaya akan vitamin dan mineral, tetapi mereka juga mengandung zat anti-nutrisi yang dapat menghambat penyerapan zat gizi penting.
Oleh karena itu, sayur dan buah sebaiknya tidak mendominasi menu MPASI. Fokus utama dalam MPASI adalah pemberian protein hewani yang kaya zat besi untuk mendukung perkembangan otak anak.
Dalam fase 1.000 hari pertama kehidupan, asupan gizi yang optimal adalah kunci untuk pertumbuhan fisik dan kognitif yang sehat, yang akan memengaruhi masa depan anak.
Dengan memahami pentingnya nutrisi yang tepat di awal kehidupan, orang tua dapat membantu memastikan bahwa anak-anak mereka memiliki dasar yang kuat untuk tumbuh menjadi individu yang cerdas dan sehat.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















