
“Targetnya adalah huntara selesai dibangun dan dapat ditempati sebelum Idul Fitri 2025, tepatnya pada awal bulan April mendatang,” tambah Abdul Muhari.
Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi lintas sektoral dengan ESDM Provinsi, BNPB, serta Pemkab Banjarnegara untuk mengkaji lebih lanjut penyebab tanah gerak di wilayah tersebut.
Berdasarkan kajian, pergerakan tanah terjadi karena kombinasi hujan deras dan tanah yang labil, dengan kemungkinan adanya pergerakan tanah lanjutan.
Relokasi dilakukan dengan mengutamakan 16 rumah yang rusak berat dan 7 rumah yang terancam. Lokasi relokasi berada di lahan milik warga yang tidak terdampak bencana.
Untuk mendukung proses relokasi, BNPB menyediakan dana uang tunggu, sedangkan pembangunan huntara akan dibantu oleh Korpri Jateng dan BTT Pemprov Jateng.
Bergas juga menambahkan bahwa perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya menjadi prioritas. Jika ada retakan atau kerusakan lebih lanjut, pihaknya segera mengambil langkah penanganan agar tidak menambah parah dampak pergerakan tanah.
Fenomena pergerakan tanah ini mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam, terutama di daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















