
“Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata, membebaskan para sandera dan membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai,” bunyi pesan beliau.
Paus juga menyampaikan empatinya kepada semua korban konflik, baik di pihak Israel maupun Palestina, sembari berharap terwujudnya perdamaian abadi di kawasan tersebut.
Paus Fransiskus sebelumnya menjalani perawatan intensif selama lima minggu akibat pneumonia, dan sejak saat itu dokter telah membatasi beban kerja beliau. Meskipun dalam kondisi fisik yang melemah, Paus tetap menunjukkan kepedulian dan kepemimpinan moral yang kuat hingga akhir hayatnya.
Paus Fransiskus, yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936, dikenal sebagai sosok pemimpin yang merakyat, penuh welas asih, serta vokal dalam memperjuangkan isu-isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan perdamaian dunia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik sedunia, tetapi juga bagi seluruh komunitas internasional yang menghormatinya sebagai suara nurani dunia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















