Hyundai Setop Sementara Produksi Ioniq 5 dan Kona Electric Akibat Melemahnya Pasar Ekspor

Hyundai Setop Sementara Produksi Ioniq 5 dan Kona Electric Akibat Melemahnya Pasar Ekspor

BOGORTODAY.COM – Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor Co., akan menghentikan sementara produksi dua model mobil listriknya, yakni Hyundai Ioniq 5 dan Kona Electric, sebagai dampak dari melemahnya permintaan ekspor di pasar global.

Dikutip dari Yonhap News Agency, Hyundai akan menutup Line 12 di Pabrik 1 Ulsan, yang berjarak sekitar 305 kilometer dari Seoul, pada 24-30 April 2025. Jalur produksi ini merupakan lokasi utama perakitan kedua model kendaraan listrik tersebut.

Permintaan Ekspor Melemah

Keputusan penghentian produksi ini terjadi di tengah penurunan permintaan dari pasar ekspor utama, seperti Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.

BACA JUGA :  Future Leaders Fellowship 2026 Dibuka, Mahasiswa Baru PTN Berkesempatan Ikuti Program Pengembangan Kepemimpinan Gratis

Kondisi ini diperburuk oleh sejumlah perubahan kebijakan pemerintah terkait subsidi kendaraan listrik (EV).

Sejumlah negara seperti Kanada dan Jerman telah memutuskan untuk mengurangi atau mencabut subsidi EV, sementara di Amerika Serikat, pasar menghadapi ketidakpastian akibat ancaman tarif tinggi dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Strategi Hyundai Belum Maksimal

Hyundai telah mencoba mengatasi penurunan permintaan tersebut dengan berbagai strategi pemasaran, seperti:

  • Pembiayaan tanpa bunga di Amerika Utara
  • Subsidi uang muka di pasar seperti Jerman dan Inggris
BACA JUGA :  LPDP dan Kemenag Buka Pendanaan Riset MoRA the AIR Funds 2026, Dana Hingga Rp2 Miliar per Proposal

Namun, dampak dari strategi tersebut belum cukup signifikan untuk mengangkat volume penjualan, khususnya di luar negeri.

Kali Kedua Penghentian Produksi di 2025

Ini bukan kali pertama Hyundai melakukan penghentian produksi kendaraan listrik tahun ini. Sebelumnya, pada 24-28 Februari 2025, perusahaan juga sempat menyetop produksi Ioniq 5 dan Kona Electric karena melambatnya permintaan global akibat transisi pasar serta ketidakpastian kebijakan pemerintah di beberapa negara.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================