Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMAIT BBS & SMA Mardi Yuana Kota Bogor)
TIAP tanggal 2 mei bangsa Indonesia memperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal tersebut dipilih karena merupakan tanggal lahir Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara atas jasa-jasanya selama hidup dalam memperjuangkan pendidikan bagi semua anak di Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.
Taman Siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta.
Tujuan didirikannya Taman Siswa adalah untuk menciptakan sistem pendidikan yang berpusat pada anak, humanis, dan berorientasi pada kebangsaan, serta sebagai bentuk perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan dan kebudayaan.
Taman Siswa bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi manusia merdeka, baik secara batin, pikiran, dan tenaga.
Taman siswa mempunyai semboyan “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” dari Ki Hajar Dewantara memiliki arti: “Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan”.
Tema Hardiknas 2025 yaitu “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua”. Yang menarik dari pedoman tahun ini adalah ketentuan pakaian yang mewajibkan seluruh peserta upacara untuk mengenakan pakaian adat daerah atau tradisional.
Kebijakan ini ditetapkan dengan tujuan menumbuhkan dan merawat nasionalisme, cinta tanah air, serta melestarikan warisan budaya Indonesia.
Penulis tidak setuju, jika semua peserta upacara harus memakai pakaian adat. Hal ini akan merepotkan dan menyangkut dana, karena untuk memakai pakaian adat itu harus menyewa dan memakan waktu untuk meriasnya. Harusnya yang memakai pakaian adat cukup petugas upacara dan pembina upacara saja.
Ingat peringatan Hardiknas tidak hanya bersifat seremonial belaka, tapi kita semua bangsa Indonesia harus bisa mengimplementasikan pendidikan bermutu untuk semua, bukan untuk orang kaya saja.
Masih banyak PR yang harus diselesaikan dalam dunia pendidikan, tapi minimal manusia Indonesia itu menjadi manusia yang merdeka, baik secara batin, pikiran, dan tenaga. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara waktu itu.
Jika manusia Indonesia sudah merdeka yang sebenarnya, maka bangsa Indonesia juga akan merdeka yang sebenarnya, tidak seperti sekarang yang masih dikuasai oleh oligarki dan asing.
Dan jika bangsa Indonesia sudah merdeka dengan sebenarnya, maka akan mudah untuk memajukan mutu pendidikan untuk kita semua. Jayalah Indonesiaku.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















