
Namun, kebijakan ini tak lepas dari kritik, terutama dari penyelenggara ekspedisi internasional. Mereka menilai pembatasan pengalaman hanya pada puncak di Nepal sebagai langkah yang tidak adil.
Beberapa gunung terkenal di luar Nepal seperti Ama Dablam, Aconcagua, dan Denali, yang sering dijadikan latihan sebelum ke Everest, seharusnya juga diakui.
“Itu tidak masuk akal. Banyak gunung lain yang digunakan sebagai persiapan Everest juga mendekati ketinggian 7.000 meter,” ujar Lukas Furtenbach dari Furtenbach Adventures, operator ekspedisi asal Austria, kepada Reuters.
Pendapatan vs Konservasi
Nepal selama ini mengandalkan pariwisata pegunungan, termasuk pendakian Everest, sebagai sumber utama devisa.
Biaya izin pendakian Everest yang mencapai £12.000 per orang menjadi pemasukan signifikan bagi negara yang memiliki delapan dari 14 puncak tertinggi di dunia.
Namun, semakin banyak wisatawan juga berarti peningkatan limbah, risiko keselamatan, dan kerusakan ekosistem pegunungan.
RUU ini diharapkan menjadi langkah awal menyeimbangkan antara keuntungan ekonomi dan konservasi alam.
RUU baru ini mencerminkan upaya Nepal untuk menjaga kelestarian Gunung Everest sekaligus meningkatkan standar keselamatan.
Meski masih menuai pro dan kontra, langkah ini dapat menjadi preseden penting dalam mengelola destinasi alam yang kian terancam oleh overturisme.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















