
“Kurang lebih empat orang, kesalnya ada penumpang saya disuruh turun, pada enggak bayar,” keluh Jaenudin.
Tak hanya dari sisi pendapatan, penertiban ini juga membuat Jaenudin merasa terganggu secara keseluruhan dalam menjalankan profesinya.
Menurutnya, kebijakan yang tidak terkoordinasi ini menyebabkan ketidakpastian dalam setiap perjalanan yang dijalaninya.
“Kita jalankan terganggu. Kita jauh jauh ga ada pemasukan lagi,” tuturnya.
Meskipun ia sudah berangkat bekerja sejak pukul 07.00 WIB, ia tidak dapat memperoleh penghasilan yang sesuai dengan usaha yang dikeluarkan.
Jaenudin bukan satu-satunya sopir yang merasakan dampak dari kebijakan penertiban tersebut. Beberapa sopir lainnya juga mengungkapkan keluhan yang serupa, yaitu kurangnya komunikasi antara Pemkot Bogor dan para pengemudi angkot terkait kebijakan tersebut. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















