
Ia juga mengungkapkan ketegangan batin yang dirasakannya sebagai mantan pemain, terutama karena pertandingan ini melibatkan sesama tim Inggris — sebuah elemen yang menambah bobot emosional dan persaingan.
“Ada antusiasme soal final, tapi juga ada perasaan muak karena ini harus berjalan baik. Kita tahu apa yang dipertaruhkan di sini,” tambah Neville.
“Juga ada hal lebih besar yang dipertaruhkan ketika menghadapi tim Inggris di final. Pada 2008 (final MU vs Chelsea), saya tidak masuk skuad pertandingan tapi ikut perjalanan ke Moskow.
Kami mengalahkan Chelsea, tapi itu adalah pertandingan yang membuat Anda berpikir, kalau Chelsea mengalahkan kami di sini, bakal seberapa buruk ini jadinya?”
Bagi Erik ten Hag dan Ange Postecoglou, laga ini juga merupakan ujian kredibilitas. Kemenangan bisa menjadi tameng kuat di tengah kritik tajam terhadap performa mereka di liga.
Sebaliknya, kekalahan bisa semakin memperlebar tekanan dan potensi perubahan besar di klub masing-masing.
Dengan sejarah panjang, basis suporter yang besar, dan ambisi untuk tetap relevan di level Eropa, laga Tottenham vs Manchester United di final Liga Europa bukan hanya soal 90 menit di lapangan. Ini adalah laga yang bisa menjadi penentu arah masa depan kedua klub.
Atmosfer di San Mamés dipastikan akan memanas — bukan hanya karena dukungan fanatik suporter, tetapi juga karena taruhannya yang begitu besar.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















