
Menurut penasehat tim peneliti, Dr. Mark Erdman, penemuan ini sangat signifikan dalam dunia biologi laut. Ia menjelaskan bahwa Coelacanth pernah dianggap punah sejak akhir zaman Kapur, sekitar 70 juta tahun lalu, sebelum penemuan pertama spesies tersebut kembali terdeteksi di Afrika dan kemudian di Indonesia.
“Senang bahwa tim berhasil menjawab pertanyaan apakah Coelacanth ada di wilayah Maluku Utara. Ini adalah jawaban dari penantian dan hipotesis yang berlangsung hampir tiga dekade,” ujarnya.
Dorongan untuk Konservasi Laut Dalam
Penemuan ini turut didukung oleh program internasional Blancpain Ocean Commitment, yang fokus pada penelitian ekosistem laut dalam seperti terumbu karang mesofotik dan habitat Coelacanth.
Peneliti menegaskan pentingnya menjaga lingkungan laut dalam, terutama habitat-habitat unik yang menjadi rumah bagi spesies langka dan endemik.
Temuan ini menegaskan posisi Maluku Utara sebagai salah satu kawasan laut dengan keanekaragaman hayati tinggi dan potensi besar sebagai kawasan konservasi.
“Ini bukan sekadar penemuan ilmiah, tetapi juga peringatan kuat akan pentingnya perlindungan ekosistem laut dalam yang rapuh. Kita baru saja membuka lembar baru dalam sejarah kehidupan laut Indonesia,” pungkas Dr. Gino.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















