BOGORTODAY.COM – Tren penggunaan cat kuku seperti gel, akrilik, dan Nail art semakin digemari di kalangan pecinta kecantikan. Namun, di balik tampilannya yang menarik, perawatan kuku yang dilakukan terlalu sering bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Risiko seperti kuku rapuh, infeksi jamur, hingga reaksi alergi dapat terjadi tanpa disadari. Bahkan, penggunaan lampu LED untuk mengeringkan cat kuku juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penuaan dini serta kanker kulit akibat paparan sinar UVA. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami efek jangka panjang dari kebiasaan mempercantik kuku ini.
Dalam dunia estetika, nail art telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Mulai dari cat kuku biasa hingga gel polish yang tahan lama, teknik yang digunakan semakin beragam. Namun, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Arieffah, Sp.KK, rutinitas nail art yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda bisa berdampak negatif pada kuku. Ia menjelaskan bahwa meskipun gel polish lebih awet, penggunaannya yang terlalu lama dapat menyebabkan kuku kering, rapuh, dan berubah warna. Kandungan seperti acrylates yang terdapat dalam produk nail art juga dapat memicu iritasi dan reaksi alergi. Tak hanya itu, paparan sinar UVA dari lampu LED selama proses pengeringan juga dinilai berbahaya jika terlalu sering terpapar.
Selain risiko alergi dan kerusakan kuku, nail art juga bisa menyebabkan masalah kesehatan lain. Menurut dr. Arieffah, paparan bahan kimia seperti polimer dan silika dapat mengganggu saluran pernapasan, bahkan memicu batuk berkepanjangan atau radang paru. Jika alat manicure yang digunakan tidak steril, kemungkinan terjadinya infeksi jamur atau bakteri meningkat. Salah satunya adalah infeksi jamur kuku (onikomikosis) dan infeksi bakteri seperti Pseudomonas, yang dapat membuat kuku berubah warna menjadi kehijauan. Selain itu, teknik mendorong kutikula yang terlalu agresif juga bisa merusak lapisan pelindung kuku, mempermudah infeksi masuk. Penggunaan aseton secara berlebihan pun bisa menyebabkan kulit di sekitar kuku menjadi kering, iritasi, dan bahkan menimbulkan dermatitis kontak.
Beberapa tanda kuku mulai rusak akibat penggunaan nail art antara lain perubahan warna menjadi kuning, hijau, cokelat, atau hitam. Tekstur kuku bisa ikut berubah, seperti munculnya garis-garis memanjang atau melintang, lubang kecil, hingga bentuk menyerupai sendok. Gejala lainnya termasuk kuku yang terlepas dari dasar, retak secara vertikal, atau munculnya garis perdarahan di bawah kuku. Sebaliknya, kuku yang sehat tampak halus, lentur, berkilau alami, serta berwarna merah muda merata dengan ujung putih yang bersih.
Meski demikian, nail art tetap dapat dilakukan asal memperhatikan jeda dan frekuensi penggunaannya. dr. Arieffah menyarankan untuk memberi waktu istirahat bagi kuku setelah dua hingga tiga kali penggunaan gel polish, setidaknya selama satu hingga dua minggu. Bila nail art dilakukan terus-menerus selama 3–4 minggu, waktu pemulihan disarankan sekitar 3–7 hari untuk mencegah kuku menguning dan mudah patah.
Beberapa langkah pencegahan juga bisa dilakukan agar kuku tetap sehat, seperti:
- Mengoleskan tabir surya minimal SPF 30 sebelum menggunakan lampu LED
- Mengenakan sarung tangan pelindung saat proses pengeringan
- Mengurangi frekuensi nail art
- Mempertimbangkan kembali penggunaan cat kuku biasa yang risikonya lebih ringan
Walaupun nail art dapat mempercantik tampilan, kesehatan kuku tetap perlu dijaga. Tanpa perawatan dan jeda yang tepat, kuku bisa mengalami kerusakan permanen, infeksi, hingga gangguan kulit. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti saran tenaga medis dan peka terhadap tanda-tanda kerusakan kuku sejak dini, agar keindahan kuku tetap seimbang dengan kesehatannya.(mg2)
Sumber: kompas.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















