
Lebih lanjut, studi ini kabarnya dilakukan atas nama Tachlith Institute, sebuah lembaga kajian berbasis di Israel.
Sejak mulai beroperasi pada 27 Mei, GHF memang telah menuai sorotan. Banyak pihak menilai misi mereka tidak semurni yang diklaim. Bahkan, PBB dan lebih dari 130 organisasi kemanusiaan global menolak menjalin kerja sama dengan lembaga ini. Peran Israel dalam mendukung GHF juga disebut menyebabkan lembaga itu seolah menjadi satu-satunya pintu masuk bantuan ke Gaza.
Alih-alih memberikan pertolongan, GHF justru dituding menyebabkan kerugian besar. Sejak beroperasi, lebih dari 751 warga sipil Gaza dilaporkan tewas selama proses distribusi bantuan, disusul 4.931 lainnya mengalami luka-luka, dan 39 orang dinyatakan hilang.
Dalam perkembangan terakhir, pihak Gaza bahkan menemukan zat narkotika tercampur dalam bahan pangan berupa tepung yang dikirimkan sebagai bantuan temuan yang kian memperburuk reputasi GHF di mata publik. (mg1)
Sumber: inews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















