
Akibatnya, siswa berada dalam posisi terombang-ambing antara peraturan baru dan minimnya kejelasan.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang baik pun bisa menjadi tidak efektif bila tidak dibarengi dengan komunikasi yang sehat dan sistematis.
Dalam pandangan sosiologi pendidikan, sekolah seharusnya bukan hanya menjadi lembaga pengajar, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang melibatkan orang tua dan pemerintah secara aktif.
Orang tua, meskipun sibuk, tetap perlu terlibat sebagai mitra utama pendidikan. Mereka diharapkan bukan hanya menyerahkan, namun lebih bisa menjadi bagian dari sistem yang menentukan arah tumbuh kembang anak.
Sedangkan pemerintah, selain berperan sebagai pembuat kebijakan, juga harus tampil sebagai fasilitator komunikasi yang menyediakan ruang dialog, panduan teknis, serta dukungan komunikasi berbasis komunitas.
Kebijakan larangan jual beli ini sebenarnya bisa menjadi momentum penting untuk membangun pola komunikasi baru yang lebih sehat.
Sekolah bisa mulai membuka jalur komunikasi yang lebih aktif dan informatif, seperti forum daring, grup diskusi orang tua, atau konsultasi terbuka tentang kebutuhan pendidikan.
Orang tua juga dapat lebih diberdayakan untuk memahami kebutuhan anak bukan hanya dari sisi materi, tetapi juga dari aspek psikologis dan sosial.
Sementara itu, pemerintah bisa memperkuat peran pengawas sekolah atau fasilitator wilayah yang menjembatani kebijakan dan praktik di lapangan.
Pendidikan akan selalu menghadapi tantangan. Tetapi tantangan ini akan menjadi lebih ringan jika ketiga pilar yakni orang tua, sekolah, dan pemerintah, berjalan beriringan dalam komunikasi yang hidup. Bukan sekedar saling memberi tahu, tetapi saling mendengar, memahami, dan merumuskan solusi bersama.
Komunikasi tiga arah yang bermakna akan melahirkan sinergi yang tidak hanya menjawab kebutuhan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan dan tanggung jawab kolektif dalam mendidik anak bangsa.
Sudah saatnya kita menyemai pola komunikasi pendidikan yang tidak kaku dan satu arah. Karena anak-anak tidak tumbuh dari sistem yang sempurna, melainkan dari lingkungan yang saling peduli dan mau bekerja sama.
Pendidikan yang bermakna tidak lahir dari instruksi, tetapi dari keterlibatan. Keterlibatan itu dimulai dari keberanian untuk berbicara dan mendengarkan satu sama lain.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















