Senyum Pilu Yanti di Tengah Sepinya Penjualan Bendera Merah Putih

“Tiap tahun makin turun. Sekarang mah bukan turun lagi, tapi merosot,” ujar Maman.

Bagi Maman, penjualan bendera sangat tergantung pada arahan pemerintah. Ketika Presiden menginstruksikan masyarakat untuk menyemarakkan kemerdekaan, efeknya bisa terasa langsung di lapak-lapak bendera.

“Kalau presiden kasih instruksi, itu turun ke Gubernur, ke Bupati, terus sampai ke RT/RW. Baru deh warga mulai rame beli bendera. Tapi kalau enggak ada gaungan dari atas, ya sepi aja,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kebiasaan Begadang Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Namun, bukan hanya soal kebijakan. Menurutnya, tantangan pedagang bendera kini juga datang dari dunia digital. Penjualan secara daring menggerus pasar tradisional seperti dirinya.

“Sekarang kan serba online. Orang tinggal klik, bendera dikirim ke rumah. Padahal, kalau beli di sini bisa pilih langsung, bisa beli satuan, dan kita layanin dengan ramah,” ucap Maman, menahan getir.

Meski kondisi semakin sulit, baik Yanti maupun Maman masih tetap setia menggantungkan hidup dari tiang-tiang Merah Putih. Mereka tahu, bendera bukan hanya kain dua warna. Ia simbol perjuangan, lambang negara, dan harapan.

BACA JUGA :  Safari Jurnalis PWI Kabupaten Bogor Sambangi Sukajaya, Perkuat Sinergi Pers dan Masyarakat

Namun, seperti halnya perjuangan, hidup sebagai pedagang bendera musiman juga tak luput dari dinamika: pasang-surut, tawa dan kecewa, untung dan buntung.

“Mudah-mudahan masih ada yang ingat pentingnya pasang bendera. Biar kami juga tetap bisa ikut merayakan kemerdekaan, walau lewat dagangan ini,” ucap Yanti, menatap langit yang mulai mendung.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================