
BOGORTODAY.COM – Yanti, seorang pedagang bendera di kawasan Stadion Pakansari, Cibinong, duduk bersandar pada gerobak kecilnya. Di sekelilingnya, puluhan bendera merah putih berbagai ukuran tergantung rapi. Meski senyum tak pernah lepas dari wajahnya, ada gurat letih yang tak bisa ditutupi.
“Setiap tahun makin susah. Pembeli maunya murah terus,” ucap wanita berusia 46 itu lirih saat ditemui Sabtu (2/8/2025).
Sudah enam tahun ia menjajakan Bendera Merah Putih. Dulu, katanya, hasil dari berjualan selama Agustusan cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sebulan lebih. Tapi kini, hasilnya tak sebanding dengan lelah yang dikeluarkan.
“Sekarang mah merosot, sampai 50 persen. Dulu pas pertama jualan, alhamdulillah, rame. Tapi sekarang tiap tahun makin sepi,” tutur perempuan asal Bogor itu.
Yanti mengaku tak pernah menaikkan harga. Bahkan, ia tetap menjual sesuai harga dari distributor. Namun, pembeli tetap menawar jauh dari harga dasar.
“Misalnya tiang bendera panjang dua setengah meter, modalnya Rp15 ribu. Sekarang banyak yang minta Rp10 ribu, bahkan ada yang nawarnya cuma Rp5 ribu,” ujarnya sembari memperbaiki posisi tiang bambu yang nyaris roboh ditiup angin.
Di mata Yanti, menjual bendera bukan hanya urusan untung rugi. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat bendera yang ia jual berkibar di depan rumah warga, menyemarakkan perayaan Hari Kemerdekaan. Namun, sentimen itu tak cukup untuk menahan arus perubahan zaman.
“Kadang saya bilang, ‘Ini kan setahun sekali, Pak, Bu’. Tapi tetap saja mereka bilang mahal. Padahal harga dari sananya juga segitu,” ujarnya.
Ia tak sendiri. Maman Sulaiman (51), rekan seprofesi Yanti yang juga rutin berjualan di sekitar Pakansari, turut merasakan penurunan pendapatan yang signifikan. Bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
“Tiap tahun makin turun. Sekarang mah bukan turun lagi, tapi merosot,” ujar Maman.
Bagi Maman, penjualan bendera sangat tergantung pada arahan pemerintah. Ketika Presiden menginstruksikan masyarakat untuk menyemarakkan kemerdekaan, efeknya bisa terasa langsung di lapak-lapak bendera.
“Kalau presiden kasih instruksi, itu turun ke Gubernur, ke Bupati, terus sampai ke RT/RW. Baru deh warga mulai rame beli bendera. Tapi kalau enggak ada gaungan dari atas, ya sepi aja,” jelasnya.
Namun, bukan hanya soal kebijakan. Menurutnya, tantangan pedagang bendera kini juga datang dari dunia digital. Penjualan secara daring menggerus pasar tradisional seperti dirinya.
“Sekarang kan serba online. Orang tinggal klik, bendera dikirim ke rumah. Padahal, kalau beli di sini bisa pilih langsung, bisa beli satuan, dan kita layanin dengan ramah,” ucap Maman, menahan getir.
Meski kondisi semakin sulit, baik Yanti maupun Maman masih tetap setia menggantungkan hidup dari tiang-tiang Merah Putih. Mereka tahu, bendera bukan hanya kain dua warna. Ia simbol perjuangan, lambang negara, dan harapan.
Namun, seperti halnya perjuangan, hidup sebagai pedagang bendera musiman juga tak luput dari dinamika: pasang-surut, tawa dan kecewa, untung dan buntung.
“Mudah-mudahan masih ada yang ingat pentingnya pasang bendera. Biar kami juga tetap bisa ikut merayakan kemerdekaan, walau lewat dagangan ini,” ucap Yanti, menatap langit yang mulai mendung.
Bagi HalamanEditor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















