
Langkah ini mencerminkan perubahan pendekatan pemerintahan Presiden Lee Jae Myung, yang berkomitmen untuk membangun kembali kepercayaan antara kedua Korea dan membuka ruang dialog tanpa prasyarat. Pemerintah sebelumnya memasang kembali speaker propaganda sebagai respons atas kiriman balon-balon berisi sampah dari Korea Utara pada tahun lalu.
Presiden Lee menekankan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi diplomatik untuk meredakan salah satu konflik paling lama di Asia Timur, meskipun tanggapan dari Korea Utara masih bersifat konfrontatif.
“Jika Republik Korea berharap dapat membalikkan semua hasil yang telah dicapainya hanya dengan beberapa kata sentimental, tidak ada kesalahan perhitungan yang lebih serius daripada itu,” tegas Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pekan lalu.
Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih berperang sejak Perang Korea 1950–1953 yang hanya diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kedekatan Korea Utara dengan Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina.
Terlepas dari retorika keras dari pihak Pyongyang, pemerintahan Lee tetap menunjukkan tekad untuk melanjutkan pendekatan diplomatik guna menciptakan stabilitas di Semenanjung Korea.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















