Kementerian Kebudayaan Dorong Penulisan Ulang Sejarah Indonesia yang Inklusif dan Reflektif

Prof. Singgih menambahkan bahwa buku ini akan menghadirkan pembaruan dalam fakta, metodologi, dan perspektif.

“Dengan pendekatan kritis dan reflektif, kami ingin buku ini menjadi lentera bagi perjalanan bangsa menuju keadilan dan persatuan.”

10 Jilid Buku dan Harapan Masyarakat

Dalam sesi pemaparan, editor jilid dari berbagai perguruan tinggi mempresentasikan isi 10 jilid buku sejarah, termasuk Prof. Akin Duli, Dr. Wanny Rahardjo, Prof. Usep Abdul Matin, dan lainnya. Diskusi ini juga disambut antusias oleh peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, budayawan, hingga masyarakat umum.

Beberapa masukan publik mencuat dalam sesi tanya jawab, seperti pentingnya integrasi buku ini ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, serta perlunya pelibatan tokoh dan sejarah lokal.

BACA JUGA :  Soroti Proyek Puskesmas Pondok Rumput, Warga: Anggaran Rp600 Juta, Keselamatan Kerja Nol Besar

Menanggapi hal tersebut, Prof. Susanto menjelaskan bahwa karena keterbatasan jilid, tidak semua narasi lokal dapat termuat, namun penulisan sejarah lokal tetap menjadi agenda penting ke depan.

Direktur Agus Mulyana menutup diskusi dengan menyatakan komitmen Kementerian untuk terus melanjutkan penulisan sejarah dan merancang integrasi buku ini dalam sistem pendidikan nasional.

“Kami berharap dalam lima tahun ke depan akan lebih banyak jilid yang terbit untuk memperkaya narasi sejarah bangsa,” tuturnya.

BACA JUGA :  Inspektorat Kabupaten Bogor Tunggu Kabar Polres soal Dugaan Jual Beli Jabatan

Forum keempat dalam Rangkaian Nasional

Diskusi publik di Makassar ini merupakan forum keempat setelah sebelumnya diselenggarakan di Universitas Indonesia (25 Juli), Universitas Lambung Mangkurat (28 Juli), dan Universitas Negeri Padang (31 Juli).

Kegiatan ini menjadi bukti keterbukaan Kementerian Kebudayaan dalam menghimpun berbagai pandangan dari masyarakat luas terhadap draf Buku Sejarah Indonesia.

Dengan pelibatan aktif masyarakat dan akademisi, Kementerian berharap penulisan ulang sejarah ini dapat menjadi tonggak penting dalam membentuk narasi kebangsaan yang jujur, adil, inklusif, dan mempererat ikatan kebangsaan dalam keberagaman.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================