BOGORTODAY.COM – Sultan Amangkurat I mencatat sejarah besar Kerajaan Mataram dengan membangun Istana Plered yang megah, sekaligus memindahkan ibu kota kerajaan. Proyek ambisius ini melibatkan ribuan tenaga kerja, termasuk para pejabat istana.
Pembangunan dilakukan untuk menggantikan keraton lama yang dinilai kurang kokoh karena berbahan kayu. Sultan memerintahkan pembakaran batu bata dalam jumlah besar sebagai bahan baku utama.
Tidak hanya rakyat, para pejabat juga diwajibkan turun langsung membantu. Penolakan terhadap perintah ini berujung sanksi tegas, seperti yang dicatat HJ De Graaf dalam Disintegrasi Mataram: Di Bawah Mangkurat I, di mana seorang pejabat diikat dan dijemur di bawah terik matahari.
Utusan Belanda Jan Vos menggambarkan istana menghadap Sungai Opak, dengan gerbang selatan mengarah ke sungai.
Bentuk utama dalem menyerupai belah ketupat, memiliki dua lapangan dalam—Kemandungan dan Srimenganti—yang dilindungi tembok keliling.
Menurut GP Rouffaer, tembok setinggi 5–6 meter dan tebal 1,5 meter ini seluruhnya dibangun dari batu bata dan dihias batu alam putih.
Babad BP mencatat, pemindahan keraton ke Plered secara resmi dilakukan pada hari Senin melalui audiensi besar.
Langkah ini menjadi simbol kemegahan baru Mataram sekaligus bukti kekuasaan mutlak Sultan Amangkurat I, yang memadukan disiplin keras dan sumber daya besar untuk membangun pusat pemerintahan yang megah dan kokoh.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















