Tidak BAB Setiap Hari? Ini Penjelasan Ahli tentang Frekuensi Normal Buang Air Besar

Fermentasi di usus akibat feses terlalu lama tertahan dapat menghasilkan gas berlebih. Menurut ahli diet Jenna Volpe, kondisi ini juga bisa mengubah komposisi mikrobioma usus, di mana orang yang sering konstipasi memiliki bakteri usus berbeda dibanding mereka yang BAB teratur.

Selain itu, feses yang terlalu lama di dalam usus bisa menjadi kering dan keras, sehingga menyebabkan nyeri saat BAB, bahkan memicu wasir atau luka pada anus (anal fissure).

BACA JUGA :  Beasiswa BCA 2027 Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Beragam Fasilitas yang Ditawarkan

Benarkah Feses yang Tertahan Jadi Racun?

Ada mitos bahwa jarang BAB membuat racun menumpuk di tubuh dan memicu penyakit. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Tubuh dirancang untuk mengelola limbah secara efisien dengan bantuan sistem imun dan mikrobioma usus.

Para ahli mengingatkan untuk tidak mudah tergiur produk “detoks” atau colon cleanse yang mengklaim dapat membersihkan racun dari usus. Metode seperti ini justru bisa menghilangkan bakteri baik yang dibutuhkan pencernaan.

BACA JUGA :  Seberapa Sering Buang Air Normal? Ini Penjelasan Medis tentang BAK dan BAB

Kapan Harus Waspada?

Kebiasaan BAB baru dianggap bermasalah bila Anda tidak BAB lebih dari tiga hari dan mengalami gejala seperti:

  • Perut kembung
  • Gas berlebihan
  • Feses keras dan kering
  • Rasa tidak tuntas setelah BAB

Jika gejala ini muncul, sebaiknya lakukan perubahan gaya hidup seperti meningkatkan asupan serat, minum cukup air, dan berolahraga. Bila keluhan tidak membaik, konsultasikan ke tenaga medis.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================